seni hidup

seni hidup (the art of living)

ziarah: perjalanan spiritualitas

Sebuah Pemikiran:


Apa dan Bagaimana Spiritualitas Kristen Seharusnya Ada?

PENGANTAR

Hari demi hari, aku mencoba untuk memahami suatu hakikat tentang apa dan bagaimana spiritualitas Kristen seharusnya dijalankan dalam kehidupan ini. Bagiku tentu saja hal ini sangat penting sebab menjadi sebuah identitas yang dengan sadar telah aku jalani sejak kecil sebagai umat Kristiani hingga saat ini. Bagiku itu adalah sebuah takdir dan keputusan.

Namun meskipun aku telah mencoba memahami dan bergumul sepanjang kehidupanku hingga saat ini, aku tidak pernah sampai pada suatu kesimpulan selain pemikiran-pemikiran tentang spiritualitas yang terus berkembang, bergerak dan berputar secara terus menerus.

Terkadang aku merasa sudah menemukan model yang tepat, namun pada suatu saat tiba-tiba hal yang telah kutemukan ternyata hanyalah sebuah bentuk artificial-spirituality yang justru bertentangan dengan nilai spiritualitas yang menurut pandanganku seharusnya ada. Itulah sebabnya hingga saat inipun aku masih terus menerus bertanya dan mencoba untuk memformulasi bagaimana seharusnya sebuah bentuk nilai spiritualitas Kristen itu ada?

Berbicara tentang pemahaman spiritualitas Kristen tentu saja tidak lepas dari ajaran Alkitab. Alkitab adalah tolak ukur pemahaman iman Kristen termasuk hal yang terkait dengan spiritualitas. Namun ketika kita mencoba menilik ke dalam Alkitab, ternyata ada begitu banyak model spiritualitas yang disajikan. Alkitab tidak mewakili satu jenis atau model spiritualitas.

Misalnya spiritualitas gaya Ayub yang bersinggungan dengan penderitaan fisiknya, atau Daud yang begitu yakin akan keberadaan Tuhan dipihaknya, atau gaya Sulaiman yang terpelajar, bijak dan sekaligus skeptis. Masing-masing masing-masing memiliki gaya penekanan spiritualitas yang berbeda sesuai dengan konteks kehidupan yang dimilikinya.
Belum lagi jika kita membaca kehidupan para raja, hakim dan nabi-nabi dalam perjanjian Lama. Kita akan menemukan banyak sekali model-model kehidupan spiritulitas mereka yang berbeda. Misalnya Yehezkiel yang mistis atau Amos yang sosialis dan kritis, Atau Yunus yang skeptis.

Dalam Perjanjian Baru kita juga menjumpai gaya spiritualitas Yesus. Kemudian juga gaya spiritualitas para rasul murid Yesus termasuk juga spiritualitas Paulus memiliki corak yang beragam yang dapat kita lihat dalam surat-suratnya, misalnya gaya Yohanes yang lemah lembut, gaya Petrus yang tradisionalis, atau gaya Paulus yang blak-blakan.

Sehingga pertanyaannya adalah pada bagian yang mana model spiritualitas itu seharusnya kita ambil dan pilih menjadi landasan bagi kehidupan spiritualitas kita. Sangat naïf dan kurang memahami teks jika kemudian kita mengatakan semua sama dan mengatakan mari kita kembali pada Alkitab. Atau kita memformulasikan spiritualitas gado-gado yang kita ambil dari sana dan sini dari dalam Alkitab.

Lebih rumitnya lagi, selain dari apa yang ada dalam Alkitab kita juga bisa diperhadapkan pada spiritualitas bentukan tradisi kekristenan. Ada tradisi yang menekankan spiritualitas bergaya kesalehan hidup seperti kaum puritan, atau kebebasan berpikir seperti gaya kaum skolastik, atau bahkan gaya mistik seperti yang dilakukan kaum biarawan di biara-biara Kristen. Lalu yang mana dari semua itu yang benar-benar disebut sebagai spiritualitas Kristen? Apalagi masing-masing mengklaim apa yang dilakukannya bersumber pada Alkitab.

Bahkan lebih serunya ada anggapan yang turut berkembang bahwa munculnya beragam aliran-aliran dalam kekristenan juga disebut sebagai representasi dari berbagai model spiritualitas misalnya gaya betarak kaum Kristen Advent, atau spiritualitas kelompok Injili yang merasa penting untuk mengedepankan pekabaran Kristus, atau sebaliknya kelompok mainstream yang menentang pekabaran Injil versi Injili dan lebih memilih untuk mengejawantahkan kehidupan Kristiani lebih kepada peran sosial dalam mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Gerakan spiritualitas gaya aliran yang lebih terkini adalah gerakan yang mengutamakan pada cara melakukan doa, pujian dan penyembahan kepada Allah dalam ibadah seperti yang dilakukan dalam aliran kelompok Pentakosta dan Kharismatik.

Tentu saja hal di atas menambah semakin banyak pilihan apa dan bagaimana sebuah model Spiritualitas Kristen dijalankan. Masing-masing memiliki cara pandang dan praksis yang berbeda dalam memahami spiritualitas Kristen dan bahkan tak segan melakukan klaim bahwa model yang dimilikinya lebih benar dibandingkan dengan model yang lain.

***

Saya sendiri lahir baru dan besar di kalangan gereja Pentakosta dan Kharismatik. Tentu saja gaya spiritualitas yang kujalani sejak dini sudah terbentuk sedemikian terkait hal doa, pujian dan penyembahan. Tiga hal yang menjadi simbol yang membedakan dengan yang lain adalah aku berbahasa Roh, melakukan penginjilan dan tidak merokok. Namun dalam perjalanan iman aku mengalami perjumpaan dengan kelompok yang berbeda yakni para misionaris Injili, dengan model spiritualitas tanpa adanya keharusan untuk berbahasa Roh sebagai simbol kesempurnaan keimanan. Namun nyatanya semangat penginjilan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang berbahasa Roh yakni orang-orang yang aku kenal. Aku sadar telah diperhadapkan pada kelompok yang tidak berbahasa Roh yang seharusnya tidak lebih baik, namun ternyata memiliki kehidupan yang tidak kalah baik yakni golongan misionaris kelompok Injili tersebut.

Adalah sebuah keputusan besar ketika kemudian aku mengatakan bahasa Roh tidak lagi penting. Apalagi sejak remaja aku memang sudah aktif dalam berbagai pelayanan penginjilan sehingga para misionaris itu dengan mudah menawan hatiku dan menjadi model baru bagi suatu model spiritualitas yang kuyakini lebih baik.

Lalu pada tahun 1994, aku masuk sebuah sekolah teologi yang beraliran Reformis. Selain bersentuhan dengan ajaran atau doktrin Kristen berbasis Reform yang salah satunya sangat dominan adalah hal terkait kedaulatan Allah dan Predestinasi, aku juga bersentuhan dengan buku-buku dalam perpustakaan yang merepresentasikan pemikiran non Injili-Reformis yakni pemikiran Liberal seperti Teolog Liberal Karl Barth dan Rudolph Bultmann, yang ternyata semakin hari semakin mewakili minat spiritualitasku yakni sebuah model spiritualitas Kristen yang menganut pemahaman dekonstruksi cara berpikir dan kritis dalam memandang kekeristenan yang disesuaikan dengan konteks budaya manusia modern.

Sehingga kemudian bagiku sangat penting untuk mempertanyakan hal-hal yang menurut nalar dan akal sehat tidak lagi relevan dengan konteks jaman yang berkembang namun terkesan dipaksakan di dalam praktek iman Kristen. Ternyata pemahaman tersebut malah mengantarkan pada suatu pada suatu pemahaman bahwa pendekatan agama melalui konsep pewahyuan sebagai bentuk aturan normatif yang kuanggap dipaksakan menuntun kehidupan manusia plural tidak lagi relevan. Kemudian aku membalikkan sudut pandangku bahwa hak kebebasan untuk memilih yang dimiliki oleh manusia yang dilengkapi nalar pribadinya adalah kemudian yang lebih atau bahkan paling utama.

Dari sana terbentuk dalam kehidupanku sebuah nilai-nilai spiritualitas yang tidak lagi memandang Tuhan sebagai pusat kehidupan, dan aku lebih memilih untuk mengutamakan kebebasan individu untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya sendiri untuk menjalani kehidupan. Tentu saja ini adalah sebuah pembalikan yang sangat ekstrim. Bagiku kedaulatan Allah tidak lagi memiliki ruang dalam kebebasan manusia untuk menentukan pilihannya, seperti kisah Adam dan Hawa. Jadi menurut pandanganku peran Tuhan hanyalah mencipta alam semesta dan meletakkan hukum-hukum alam di dalamnya, dan selebihnya adalah tugas manusia untuk menjalankan apa yang menjadi tugas-tugas dalam kehidupannya di dunia ini.

Dalam kondisi Tuhan tidak lagi penting sebagai model spiritualitasku, perlahan-lahan hakikat keberadaanpun menjadi nihil menuju ketiadaan. Bagiku kemudian tidak ada lagi benar dan salah selain dari pada kebebasan dan perwujudan diri saya untuk membentuk nilai-nilaiku sendiri yang ingin kuyakini. Akulah sang penentu keyakinan dalam hidupku dan tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari pada itu. Sungguh akhirnya kekritisan itu semakin membawa saya keluar dari batasan bahkan yang paling prinsipil dalam kekristenan yakni beralih dari kehidupan kristosentris atau religiosentris menuju egosentris, hal yang tentu saja akhirnya memisahkan saya dari ukhuwah umat Kristiani dan mencoba membangun jalan spiritualitas sendiri di luar kekristenan.

Ketiadaan eksistensi Tuhan membawaku ke ranah berkeyakinan atau berspiritualitas non theistik. Satu hal yang menjadi titik kesadaran penguat ajaran ini menancap dalam di benakku adalah munculnya sebuah anggapan yang secara otomatis terjadi bahwa manusia bertuhan adalah periode anak-anak yang selalu membutuhkan panutan, sedangkan ketika mereka menjadi dewasa mereka tidak lagi membutuhkan panutan, selain dari pada dirinya sendiri. Sehingga kemudian aku mencoba membimbing kehidupanku sendiri tanpa Tuhan dan ternyata gaya spiritualitas berketuhanan yang sebelumnya kuanut melekat erat membuktikan bahwa asumsiku di atas benar bahwa Tuhan membuatku lemah dan untuk menjadi kuat aku harus melepaskanNya. Manusia bertuhan ketika mengalami kesulitan hidup dengan mudahnya mengharapkan penghiburan dan pertolongan dari Tuhan sebagai jalan keluarnya, sedangkan dalam kondisiku seperti itu, aku harus berjuang sendiri dan tidak lagi menengok ke atas mengharapkan bahkan sekedar sebuah penghiburan.

Kehidupan yang awalnya mudah menjadi lebih atau bahkan sangat keras. Kehidupan spiritualitas non theistik merubahku perlahan-lahan menjadi pribadi yang skeptis dan sekaligus sinis pada kemudahan-kemudahan manusia beragama dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya, namun aku sekaligus bangga bahwa tanpa ber-Tuhan-pun aku bisa menjalani kehidupan ini.

Namun sungguh tidaklah mudah hidup dalam spiritualitas tidak ber-Tuhan di kalangan manusia ber-Tuhan. Ketika aku mengatakan diri tidak beragama dan sekaligus tidak ber-Tuhan, ada sorotan-sorotan mata yang seolah-olah minta penjelasan bagaimana hal itu mungkin terjadi? Namun bukan itu permasalahan utamanya hidup tidak ber-Tuhan. Aku semakin diperhadapkan pada permasalahan hidup menjadi semakin berat sebab setiap saat aku harus berjuang sendiri, sehingga suatu saat aku berpikir sejenak mengapa aku musti membuang kemudahan yang ada? Selain itu aku tidak menemukan titik akhir yang membuat hidupku menjadi lebih bermakna dengan hidup tanpa Tuhan, selain bahwa aku bangga menjadi manusia yang dapat mengendalikan kehidupanku sendiri. Namun untuk apa? Aku tidak bisa menjawabnya.

Lalu perlahan-lahan aku melirik kembali kehidupan manusia yang bertuhan, toh tidak terlalu buruk. Aku malah melihat arah positif manusia yang ber-Tuhan dalam kehidupan mereka. Sehingga aku sampai pada suatu kesimpulan bahwa Tuhan ternyata adalah inspirasi bagi kebaikan umat manusia, sehingga hal tersebut dapat membuat kehidupan manusia menjadi lebih bermakna. Hal lain toh bahwa ternyata penghiburan Tuhan dapat berlaku secara fungsional saja Lalu aku mencoba memahami spiritualitas ber-Tuhan secara fungsional. Tuhan tidak harus mengatur kehidupanku namun aku bisa mengandalkan diri-Nya sebagai tujuan katarsis dalam kehidupanku. Ini adalah sebuah jembatan kecil yang membimbingku kembali dari “padang gersang” menuju “lembah menghijau” jalan sang Tuhan.

***

Minatku pada kebaikan dan dalam konteks kehidupan beragama yang plural di Indonesia, membawaku untuk mencoba belajar memahami agama-agama lain khususnya Buddha dan kemudian Islam. Aku belajar agama Buddha karena ketertarikanku untuk melihat tokoh atau simbol kebajikan Sang Buddha atau Sidharta Gautama yang sepertinya begitu sempurna. Sedangkan Islam, aku memiliki ketertarikan magis dalam diriku, suatu yang melekat di masa kecilku ketika tumbuh dan besar di lingkungan masyarakat muslim. Suara pembacaan al Quran atau adzan selalu menyentuh hatiku untuk kemudian membimbingku mempelajari agama ini.

Singkat cerita, minat terhadap agama-agama itu ternyata menjembataniku kembali pada keyakinan Kristen yang yang sudah lama terbengkalai. Ketika aku kembali mempelajari isi Alkitab itu aku menemukan ternyata Yesus Kristus adalah model spiritualitas yang paling sempurna, atau paling tidak sesuai dengan kebutuhanku yang paling mendasar. Jika sebelumnya aku memandang spiritualitas Kristen seperti yang terdefinisi di atas yang terpahami melalui model definisi aliran atau pantangan, ketika aku kembali dari pengembaraanku, kini aku diperhadapkan pada esensi dari kehidupan dan ajaran Yesus sendiri selama kehidupanNya di dunia ini.

Aku membuka ayat-ayat Alkitab menemukan siapa diriNya sebenarnya. Kemudian semuanya menjadi jelas – Spiritualitas Manusia Yesus seharusnya menjadi model spiritualitas kekristenan yang paling tepat. Namun ketika aku telah menemukannya, ternyata itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan, malah membuatku menarik diri dan menjalani kehidupanku apa adanya saja. Apa yang membuatku menarik diri dari kehidupan kekristenan untuk yang kedua kalinya? Sebab aku tidak berani menjalani kehidupan seperti yang Yesus Kristus jalani. Aku terganjal dengan ujung motif diriku yang ternyata tidak jauh dari kemapanan hidup.

Sebagai manusia aku akan berkata normal jika aku memang menghendaki kemapanan, toh semua orang juga melakukannya. Namun dalam pemahamanku menjadi seorang pengikut Kristus yang sebenarnya, seharusnya kemapanan itu tidak lagi berkenan. Sebab setelah aku mencoba mengenal diriku lebih mendalam ternyata dari pada ber-Tuhankan Kristus ternyata aku lebih pada bertuhankan diri sendiri dan Mamon dalam bentuk kemapanan dan kenikmatan hidup di dunia ini. Semuanya tidak lebih dari pada kehidupan spiritualitas hedonistik, dan menyimpan sedikit saja hasrat spiritualitas Yesus.

Jadi untuk menghindari sikap hipokrit itu kembali aku musti mementalkan diri dari dunia pelayanan dan kehidupan Kristiani sebab aku tidak menginginkan label “melayani perut sendiri” atau “hipokrit” yang menjadi tujuan bagi kehidupan spiritualitas Kristen yang kujalani.

Dalam pemahamanku sangat jelas bahwa spiritualitas Yesus atau yang kupahami sebagai yang seharusnya menjadi bentuk spiritualitas Kristen harus melepaskan dari motif hedonistik dan keinginan pada hal-hal yang bersifat materialistik. Aku beranggapan bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak memerlukan landasan atau bahkan keharusan materialistik. Aku tidak menyangkal memiliki kerinduan yang sangat besar dan mendalam pada model Spiritualitas Yesus Kristus, namun pada saat yang bersamaan ternyata tidak mampu melepaskan diri dari sifat natural hedonistik-materialistisk manusiaku, sehingga aku menjadi malu dan tidak layak untuk berdiri di hadapan Tuhan dan sekaligus manusia, serta dengan jumawa menyebut diriku pengikut Kristus, sebab sesungguhnya manusiaku memang tidak menjalani ajaran dan teladan Yesus dalam kehidupanNya.
***

Buku ini selain sebuah refleksi pengalaman pribadiku dalam mencari spiritualitas Kristen yang hingga saat inipun tetap menjadi pergumulanku, yang juga akan membahas model-model spiritualitas yang terjadi selama pengembaraanku untuk menemukan suatu hakikat spiritualitas Kristen yang sebenarnya.

Tentu saja aku sadar bahwa masing-masing orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap hal ini, sehingga buku ini yang sebenarnya hanyalah sebuah wadah sharing pengalaman subyektifku kepada pembaca. Harapannya tentu saja bahwa semoga buku ini memberikan suatu wawasan atau melihat suatu pemahaman yang lebih luas terkait pemahaman spiritualitas Kristen yang seharusnya ada di tengah-tengah begitu banyak pilihan-pilihan yang ada.

Adapun arahan yang diasumsikan sebagai bentuk kebenaran dalam buku adalah sebuah kebenaran subyektif penulis dan sangat jauh dari sifat mengikat dan musti dipahami dengan bijak. Jadi untuk lebih jelasnya silakan melanjutkan saja membaca buku ini .

Demikianlah pengantar ini sudah saya sampaikan. Selamat membaca. Tuhan Memberkati.

 

(Amos Adi/Medan/2009)