seni hidup

seni hidup (the art of living)

Spiritualitas UUD Vs. Spiritualitas Cawan


by Amos Adi on Monday, 21 June 2010 at 18:47
Spiritualitas UUD Vs. Spiritualitas Cawan
Voice of The Prairie/Article One/24/11/09

Tidak bisa disangkali bahwa kemapanan metarial adalah tujuan alami bagi setiap individu dalam menjalani kehidupannya. Sehingga apapun yang dilakukan oleh seseorang, hal utama yang selalu diharapkan adalah untuk meraih kehidupan yang lebih baik - dalam arti kemapanan. Bahkan doa seorang ibu bagi anak-anaknya adalah supaya mereka hidup mapan. Mereka hidup dalam kecukupan atau lebih baik jika adalah sebuah kelebihan. Sejak kecil kita juga telah diajarkan dan dikondisikan untuk mendapatkan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini yang sebagian besarnya adalah kemapanan. Dan tidak satu manusiapun diasumsikan tidak menghendaki kemapanan dalam kehidupannya.

Dunia ini mengajarkan kepada kita bahwa kemapanan adalah hal yang baik, hal yang selalu diinginkan, sesuatu yang menjadi ukuran bagi keberhasilan kehidupan manusia. Namun apakah dengan demikian kemudian kita dapat menjadikan spiritualitas atau cara kita dalam menghayati keimanan juga sebagai alat untuk mencapai kemapanan? Atau Spiritualitas yang Ujung-Ujungnya adalah Duit?

Jika disebut uang mungkin sebagian orang akan menolak, namun jika disebut berkat atau kemapanan lahiriah ternyata ada banyak orang Kristen baik secara sadar atau tidak sadar menjadikan hal ini sebagai tujuan spiritualitas yang dibangun dalam kehidupannya. Bahkan ada orang yang berani memilih jalan hidup menjalankan spiritualitas hamba Tuhan, sebab di dalamnya sangkanya ia dapat memperoleh berkat atau kemapanan hidup yang lebih baik. Sungguh ini adalah sebuah anggapan yang keliru.
Saya sendiri beranggapan bahwa spiritualitas seharusnya memiliki tujuan bukan untuk kemapanan apalagi terkait hal materialistik. Lebih jauh bahkan spiritualitas tidak boleh menjadi alat untuk mencapai kemapanan tersebut. Spiritualitas Kristen memiliki nilai yang jauh lebih mendalam dari pada kemapanan jasmani.

Saya tidak mengatakan mengejar kemapanan salah. Bahkan saya akan mengatakan itu adalah hal yang paling manusiawi dapat manusia lakukan dalam kehidupannya. Namun ketika kita berbicara tentang spiritualitas, kita tidak sedang berbicara hal yang manusiawi melainkan hal yang ilahiah, sehingga tak pelak bagi saya pendekatan spiritualitas yang berujung kemapanan hanya akan menjadi dusta atau kebohongan di hadapan Allah, sebab spiritulitas Kristen adalah sebuah totalitas kepada kehendak Allah, dan tidak tercampur dengan hal-hal duniawi, sama seperti apa yang telah Yesus Kristus sendiri telah teladankan bagi kehidupan kita.


***

Awalnya istri saya menentang pandangan saya ini, hingga suatu saat ia melihat sendiri maksud yang saya maksudkan. Ini adalah sebuah kebenaran yang nyata, yang banyak orang telah gagal untuk memahaminya. Dipikirnya dengan memiliki spiritualitas yang baik mereka berhak untuk menggunakannya mencapai tujuan kemapanan jasmaniah. Tidak heran jika akhirnya ujung dari segala hal kerohanian yang terlihat adalah uang dan kekuasaan.

Lalu jika Allah memang mengajarkan kemapanan menjadi tujuan atau bahkan landasan spiritualitas Kristen, mengapa:

a) Allah berinkarnasi tidak pada keluarga yang berada, melainkan membunyikan simbol kesederhanaan atau kemiskinan lebih tepatnya yakni sebuah kandang domba sebagai tempat yang layak bagi kehadiran Yesus Kristus?

b) Yesus Kristus mengajarkan kesederhanaan dengan mengatakan: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." (Lukas 9:58). Bagaimana mungkin murid masih menginginkan kemewahan jika sang guru berkata demikian?

c) Dalam salah satu ucapan bahagianya Yesus mengatakan: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (Matius 5:3). Menyamarkan kata ini sebagai miskin rohani hanyalah menjadikannya dusta belaka. Ayat ini adalah ayat yang sangat jelas anti terhadap kemapanan.

d) Yesus mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Matius 19:23-24). Sehingga anak muda yang ingin menjadi sempurna dengan melakukan seluruh hukum Taurat itu akhirnya pergi sebab ia tidak mampu menjual hartanya untuk mencapai spiritualitas sejati sebab hartanya banyak.

e) Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak mengumpulkan harta di dunia dalam perkataan ini: “"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Matius 6:19-21)

Jadi sungguh naïf jika kemudian kita mengatakan spiritualitas Kristen berujung pada kemapanan. Kemapanan tidak menjadi tujuan bahkan dilarang dalam memahami ajaran spiritualitas seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Lalu di manakah ujung dari spiritualitas Yesus sendiri? Seperti yang saya katakan sebelumnya, spiritualitas Kristen adalah totalitas ketaatan terhadap kehendak Bapa, yakni cawan yang diberikan Bapa kepada kehidupan kita.

***

Lalu jika sedemikian apakah kemudian spiritualitas Kristen sedemikian beratnya. Jawabannya Ya! Spiritualitas Kristen adalah spiritualitas cawan Allah di mana tiada tempat di dalamnya bagi harapan materialistik. Namun seperti saya katakan sebelumnya bahwa tidak salah mengejar kemapanan sebagai sifat dasar manusia, namun mengejar kemapanan yang diasumsikan sebagai akibat dari spiritualitas Kristen itulah letak kesalahan yang sangat fatal. Spiritualitas Kristen dalam kekristenan kemudian hanya menjadi alat atau bahkan kedok untuk mencapai tujuan yang duniawi dengan cara yang ilahi. Dalam konteks tertentu cara-cara seperti ini dapat dikatakan sebagai usaha menipu Allah. Seolah-olah seseorang menyampaikan sebuah pengabdian atau pelayanan kepada Allah melalui kehidupan spiritualitas dirinya, namun ujung-ujung perjuangannya yang tersembunyi adalah kemapanan dirinya.
Merekalah model anak-anak imam Eli yang akhirnya malah mencemarkan sterilitas spiritualitas. Mereka mengaku melayani Allah namun ternyata hanya membesarkan dirinya sendiri. Menjadikan dirinya sendiri terkenal sehingga dengan demikian mereka mendapat jatah lebih banyak, lebih besar dan lebih memberikan jaminan pada kemapanan hidupnya.


***

Sekali lagi saya tidak hendak menyalahkan keinginan dasariah manusia mengejar kemapanan. Namun menggunakan spiritualitas sebagai media untuk mencapai kemapanan adalah sebuah kesalahan. Spiritualitas Kristen adalah spiritualitas cawan yang berisi totalitas ketaatan kepada kehendak Allah seperti yang telah Yesus contohkan bagi kehidupan kita.

Namun demikian, tentu saja sangat repot bagi mereka yang sudah terlanjur masuk ke dalam penyalahgunaan spiritualitas Kristen untuk mengejar kemapanan dirinya sendiri. Lalu bagaimana caranya keluar dari kekacauan itu?

Pilihan pertama) belajar taat pada totalitas kehendak Allah. Namun ternyata jika anda ternyata masih juga memikirkan kemapanan hidup, itu artinya bahwa anda sama sekali belum siap. Jika anda tidak siap menyerahkan seluruh kehidupan anda termasuk nyawa anda, dan masih menimbang-nimbang kemapanan hidup, SANGAT JELAS bahwa Anda BELUM SIAP masuk ke dalam spiritualitas Kristen. Sehingga dengan demikian saya akan menyarankan anda melakukan

Pilihan kedua) Menjalankan kehidupan kerohanian anda sebagai profesi sebab anda memang masih memikirkan kemapanan diri sendiri. Anda masih ingin memiliki uang yang banyak, rumah yang bagus, mobil dan lain sebagainya. Anda tidak perlu menyebut diri hamba Tuhan jika ternyata anda tidak mampu, dan menggantikannya dengan istilah Profesi hamba Tuhan. Atau pilihan yang lebih ekstrim:

Pilihan ketiga) Anda seharusnya tidak ada di sana, sebab itu memang bukan bagian anda. Anda tidak dapat menyalahgunakan spiritualitas untuk kepentingan diri anda sendiri. Anda bisa keluar dan hidup bekerja seperti layaknya orang-orang yang mengharapkan kemapanan dalam kehidupannya, dan membuang jauh-jauh pikiran bahwa spiritualitas dapat menjadi alat bagi anda untuk mencapai kemapanan.


***

Lalu apakah kemudian Allah marah jika anda keluar dari pelayanan dan bekerja saja sebab anda memang menginginkan kemapanan? Selama pelayanan Yesus di dunia ini sangat jelas, bahwa apa yang ditentangnya bukanlah kejujuran, melainkan kemunafikan. Jika anda tidak mampu jujur kepada diri sendiri, bagaimana anda akan jujur kepada Allah apalagi kepada sesama? Jika anda mampu menipu diri sendiri bagaimana anda tidak akan menipu Allah dan sesama? Seperti doa seorang berdosa dan doa seorang imam Yahuda, Yesus menyatakan bahwa doa orang berdosa itu diterima Allah, sedangkan doa orang yang merasa diri benar itu tidak!

Tentu saja Allah tidak marah sebab anda berperilaku jujur! Itulah kesalahan utama para imam-imam agama Yahudi, yang seolah-olah dirinya melayani Allah, namun ternyata mereka hanya melayani dirinya sendiri, mengejar kemegahan, kemapanan dan kekuasaan bagi dirinya sendiri. Apapun yang dikatakannya bahwa mereka berjuang untuk Allah, mereka atau orang-orang yang mengejar kemapanan melalui kehidupan spiritualitasnya ini tidak akan mampu menipu Allah.

Mungkin yang terburuk mereka tidak lagi sadar bahwa mereka sudah menipu Allah, sebab kejahatan itu sudah dilakukan secara berjamaah, dan ada pembenaran-pembenaran yang dilakukannya, serta hati mereka sudah tertutup rapat untuk mendengarkan nuraninya sendiri, namun YESUS TAHU DAN TERUS MENEGUR MEREKA!

***