seni hidup

seni hidup (the art of living)

Latar Belakang Penulisan Kitab Suci Milenium 2

by Amos Adi on Sunday, 14 November 2010 at 10:02

Latar Belakang Penulisan Kitab Suci Milenium 2

 

Kitab Suci Agama-agama

 

Kitab suci adalah buku panduan agama. Agama-agama khususnya agama samawi memiliki kitab suci yang menjadi panduan bagi penyusunan aturan agamis atau dogma atau aturan yang menjadi ajaran agamanya. Kitab itu disebut suci sebab isinya diasumsikan terkait secara langsung dengan pewahyuan ilahi. Itulah sebabnya menurut naturnya kitab suci memiliki sifat kebenaran absolut, yakni sebuah kebenaran mutlak yang dianggap tidak terbantahkan khususnya yang menjadi klaim dari umat penganut ajaran kitab suci tersebut.

Namun apakah benar kemudian bahwa kitab suci memiliki kebenaran yang tidak terbantahkan?

Dalam konteks dunia modern hal ini kemudian menjadi semakin rumit. Kitab suci yang tadinya terbungkus tabir ilahi disingkap secara rasional, bahkan dengan pendekatan-pendekatan di luar jalur tradisi keimanan, termasuk beberapa pendekatan empiris, dan tak pelak kitab suci tidak mampu lagi mempertahankan keabsolutannya. Klaim absolut sehingga membuat kitab suci merasa berhak menjadi sumber aturan bagi seluruh aspek kehidupan manusia tidak lagi berlaku.

Kemudian kesalahan demi kesalahan, hal-hal irasional yang tidak dapat dinalar, bermunculan di sana-sini dari kitab suci. Bahkan hal-hal yang menjadi esensi dasar keimanan yang tertera dalam ajaran kitab suci tidak luput dari sasaran tembak, dan menghasilkan pemaknaan dekonstruktif terhadap apa yang menjadi isi kitab suci. Sehingga tak pelak, bagi banyak orang yang mampu berpikir kritis kitab suci tidak lagi suci sebab ternyata berisikan hal-hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dianggap ada di luar dirinya yang dianggap tidak suci. Bahkan ternyata semakin banyak disinyalir bahwa kitab suci memberikan ajaran-ajaran yang tidak lagi relevan dengan pola kehidupan plural di sebuah jarak dunia yang semakin didekatkan dengan perkembangan teknologi komunikasi, tersingkap bahwa ajaran-ajaran kitab suci banyak yang menjadi sumber permasalahan baru di dunia ini.

 

Namun bagaimanapun juga kitab suci bukan sembarang buku. Kesanggupannya sendiri untuk bertahan beratus-ratus bahkan ribuan tahun adalah sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Kitab suci ini telah memberikan inspirasi pada jutaan manusia untuk melakukan perbaikan dan pembaharuan kehidupan manusia di dunia ini sesuai pesan yang tertera di dalamnya.

 

Bukan suatu hal baru merevisi ajaran kitab suci. Sejarah filsafat telah membuktikan bagaimana mereka bergerak secara progresif untuk memperbaharui makna-makna yang ada dalam kitab suci. Bahkan secara tidak sadarpun pemegang ajaran fundamentalis kitab suci juga mengalami perubahan dalam menafsirkan kitab suci sesuai dengan suatu konteks jaman yang berkembang. Misalnya meskipun ada banyak ajaran kekerasan dalam kitab suci, namun ajaran-ajaran itu mulai didekonstruksi menurut norma atau kerangka nilai yang ada pada suatu jaman.

 

 

Prinsip Dasar Penulisan Kitab Suci Milenium 2

 

Gagasan ketuhanan kitab suci yang melahirkan eksklusivitas beragama mulai didekonstruksi dengan gagasan ketuhanan yang lebih bersifat universal. Yang lebih universal di sini dalam artian bahwa perbedaan prinsip ketuhanan, apalagi yang memberikan motif abusif atau bahkan tindakan kekerasan, atau pengekangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan asali yang bersumber pada ajaran ketuhanan agama dipertanyakan. Jika itu adalah ajaran Tuhan mengapa terjadi kerusuhan di antara kelompok-kelompok yang menjadi pembela keyakinan tersebut? Klaim bahwa ketuhanan yang dimilikinya paling benar dan melakukan penindasan ideologis keagamaan terhadap keyakinan lain menjadi sasaran kritik. Benarkah ini Tuhan yang menjadi sumber fanatisme kelompok-kelompok tersebut.

Ada banyak gagasan muncul. Gagasan-gagasan tentu yang tidak mungkin muncul dari kelompok mainstream, namun dari kelompok-kelompok pinggiran yang tiada beban atau tanggung jawab sosial, melakukan dekonstruksi gagasan idiil ketuhanan yang seharusnya dipahami oleh umat beragama yang saat ini terlibat nampak memiliki keinginan saling menjatuhkan, menyerang dan bahkan saling membinasakan.

 

Mengingat kembali lahirnya agama-agama di dunia ini, selalu berasal dari suara pinggiran yang menentang gagasan mainstream suatu bentuk atau praktek keagamaan yang diasumsikan tidak lagi menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Agama menjadi dogma yang kaku, menindas dan bahkan cenderung disalahgunakan oleh kekuasaan bagi kepentingan dirinya. Keinginan suatu agama untuk menjadi besar dan berkawin dengan kekuasaan yang bersifat politis, menjadikan agama kehilangan nurani kemanusiaannya, menjadi besar dan kemudian sarat dengan intrik kekuasaan. Celakanya bahwa agama adalah sebuah keyakinan yang tidak terbantahkan, sehingga sentiment keagamaan menjadi sebuah alat yang sangat mudah terpicu dan meledak dalam sebuah kerusuhan bahkan peperangan.

Kitab suci ditulis untuk memperbaiki segala kesalahan itu yang dahulu pernah diperbaiki oleh suatu kitab suci terhadap konteks permasalahan yang sama, namun celakanya kemudian kitab suci itu terjebak dalam sikap absolutnya sendiri, yang kemudian menjadikan kitab suci itu sendiri tidak mampu keluar dari jebakan kekuasaan. Seperti gelas kotor meskipun diisi dengan air bersih, maka air itu juga akan menjadi kotor. Jika mau air itu tetap bersih, maka harus mampu mengganti gelas itu dengan wadah yang baru.

Apa “gelas” atau jebakan itu?

 

1) Pengartian bahwa kesucian berasal dari wahyu absolut Tuhan. Wahyu memang berasal dari Tuhan namun kitab suci tetap saja adalah tulisan manusia yang terbatas. Meskipun diasumsikan Tuhan tidak melakukan kesalahan, namun manusia melakukan kesalahan. Sehingga tidak ada kitab yang menjadi suci sebab ia hanya tulisan manusia yang terbatas. Keterbatasan itu nampak akhirnya pada kelemahan-kelemahan yang ditunjukkan kitab suci dalam menjawab keseluruhan aspek kehidupan manusia. Kelemahan itu juga nampak pada konsep-konsep kitab suci yang kemudian tidak lagi relevan atau sesuai dengan perkembangan jaman, dan semakin diperjelas dengan sifat-sifat pemaksaan yang dilakukan oleh para pembela kitab suci terhadap realitas yang memang tidak lagi sejalan dengan perkembangan jaman. Penganut kitab suci menjadi manusia-manusia yang mengukurkan ukuran-ukuran masa lalu dengan realitas modern yang hasilnya tentu saja sangat tidak relevan

 

2) Ketidaksadaran akan keterbatasan manusia untuk menangkap wahyu ketuhanan yang tidak terbatas. Klaim bahwa keyakinannya benar dan yang lain salah secara keimanan seolah-olah menjadikan pelaku menjadi sosok Tuhan. Ketidaksadaran manusia bahwa dirinya terbatas telah menjadikan dirinya terhisap pada kenyataan bahwa sifat absolutisitas ketuhanan. Asumsinya jika Tuhan benar, maka seluruh pewahyuan yang didapatnya adalah benar. Padahal pewahyuan itu sendiri hanya akan ditangkap sebatas yang dimengerti oleh penerima wahyu. Jadi bagaimana dikatakan bahwa pewahyuan tidak melibatkan daya nalar manusia.

 

Dengan menghilangkan berusaha untuk menghilangkan sikap absolutisitas kebenaran monologis dan menggantikannya dengan konsep dialogis, maka kita dapat menggantikan gelas itu dengan gelas yang baru. Sehingga dengan konsep dialogis tersebut kesadaran akan keterbatasan manusia dalam menangkap seluruh kebenaran atau wahyu ketuhanan menjadikan kebenaran itu parsial dan akan terus mencari bentuknya. Dengan kata lain bahwa gelas yang baru itu adalah penulisan kitab yang dilakukan kebalikan dari yang di atas yakni konsep pewahyuan non absolutis, yang tidak berasal dari ketuhanan, melainkan dari observasi kemanusiaan, dan selalu menyediakan sebuah wadah kritik dan dialog sehingga tidak ada lagi klaim kebenaran. Semuanya adalah benar dalam suatu konteks pemahaman penulisnya tersendiri.

 

Inilah yang menjadi landasan penulisan sebuah usaha kanonisasi kitab suci Milenium 2 yang diharapkan paling tidak akan bertahan hingga tahun 2999.

 

(Bandung/24/May/2010)