seni hidup

seni hidup (the art of living)

jalan bahagia

The Book of Felice: I found it!

Pergumulanku selama ini sangatlah berat. Siang malam, pikiranku tak pernah berhenti bertanya. Bahkan pada saat tertidurpun aku bermimpi dan terbangun dengan segudang pertanyaan bermunculan di benakku. Dalam pergumulanku itu, aku mencoba untuk menemukan kesejatian spiritualitas anti materialisme dan pengaruh materialistik dalam kehidupan ini yang kupandang dengan penuh kecurigaan sebagai pembunuh hakikat manusia menemukan kebahagiaan dirinya. Aku terus menerus menentangnya, meskipun aku sendiri tidak luput hidup dalam pengaruhnya. Ingin rasanya aku keluar darinya, namun tubuhku terlalu menginginkannya. Meski manusia batinku menolak dengan sangat keras, namun aku tidak bisa tidak mengikuti jalan-jalannya. Jadi aku sungguh hidup dalam dualistik yang tiada berkesudahan.

Alasan penentanganku pada dunia materi adalah berasal dari kesadaran bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, sehingga aku lebih ingin untuk mengejar spiritualitas sejati yang di dalam pemahamanku tiada lagi terkait dengan alam materialisme. Untuk apa aku memiliki benda-benda di dunia ini jika pada akhirnya akan kutinggalkan, dan aku akan pergi tanpa suatu apapun melekat pada diriku. Lebih baik aku menghindarinya dan tidak menghabiskan waktu yang kumiliki hanya untuk mengejar kepemilikan yang menurut pikiranku sama sekali bukan kesejatian. Lebih baik aku hidup seperti para biarawan yang meninggalkan dunia ini dan hidup di tempat yang sunyi, menjauh dari keinginan materialistik selalunya pada akhirnya menjadi sumber kepedihan. Kepedihan mengingat hidup dalam dunia materialistik ini pada akhirnya adalah sebuah beban yang sangat berat untuk ditanggung, dan itu bisa menjadi kepedihan yang mendalam sebab pada akhirnya pengejaran materi kebendaan itu akan membuat kehidupanku menjauhkan dari tujuan spiritualitasku. Bagiku hidup ini tidak harus mengejar materi dan itu sama sekali bukan tujuan utama.

Namun ternyata di sisi lain, ketika aku mengejar spiritualitas sebagai perhatian utamaku, aku menemukan ternyata tubuh fisikku tidak bisa dan menolak untuk diabaikan. Aku mengerti bahwa sudah menjadi hukum alam bahwa tubuh menyukai kenikmatan hedonistik materialisme. Aku menyukai banyak hal yang tidak sejalan dengan pencarian spiritualitasku. Dan celakanya semakin aku melawan keinginan itu, semakin kuat ia mengikatku. Lalu pada suatu hari aku memutuskan untuk berhenti melawannya dan membiarkannya saja melakukan penentangan pada pemahaman spiritualitasku. Dan ternyata keinginan hedonistik materialisme itu menjadi sangat kuat, sekuat keinginan spiritualitas anti materialisme dalam diriku. Bayangkan aku hidup dalam dua perahu yang menarik diriku ke kiri dan ke kanan. Dalam kondisi ini setiap hari aku bergumul dalam penantian sambil mencari jalan apa yang bisa menyatukannya. Aku mencoba menarik ulur pengertianku, misalnya membuang rasa bersalah terhadap konsep spiritualitas materialistik toh semua orang juga melakukan hal yang sama. Menjadikan materi sebagai tujuan dari spiritualitas. Pembenaran kulakukan, namun apa daya bahwa aku tidak mampu untuk menentang nuraniku. Aku sungguh terpuruk dan tidak mampu menjalani niat itu ketika nuraniku menolaknya. Dan aku melihat dengan sangat jelas ketika sebuah pemahaman spiritualitas ternyata berujung pada hanya kenikmatan hedonitas materialisme semata, padahal menurutku  itu adalah sebuah penyakit spiritualitas yang justru ingin kulawan.

Dalam kehidupanku, memang sudah sejak lama aku memisahkan antara yang rohani dan yang materi. Aku tidak mau menggunakan yang rohani untuk mendapatkan yang materi. Jadi jika menginkan materi satu-satunya cara adalah bekerja. Dan ketika bekerjapun tanpa harus menghubungkan dengan hal-hal yang terkait spiritualitas apalagi memanfaatkannya untuk tujuan pekerjaan itu. Jadi menurutku inilah yang banyak dilakukan orang, yang paling wajar, dan tentu saja jalan yang benar untuk mendapatkan kekayaan materi yang layak. Bagiku inilah cara yang membuat manusia dewasa sadar akan tanggung jawab pada diri dan keluarganya. Lalu aku melakukannya. Aku bekerja dan mencoba untuk melepaskan diri dari hal-hal spiritualitas. Namun ternyata semakin aku bekerja semakin aku mengalami kekosongan. Hal terkait dengan gairah spiritualitas yang kuinginkan malah tertindas dan hilang. Padahal aku masih dan sesungguhnya sangat menginginkan hal itu. Dan kurasa dalam tingkat tertentu aku benar-benar menginginkan menjadi satu-satunya jalan di dalam kehidupanku. Lalu dalam kondisi ini hatiku kemudian menjadi kosong. Jiwaku menjadi kering dan merana. Lalu aku berkata pada diriku. Cukuplah aku hidup dalam kekosongan ini. Aku tidak ingin berkubang pada suatu jalan yang tidak kuinginkan. Lalu aku berhenti bekerja.

Aku mulai bergumul kembali dengan gagasan spiritualitas. Aku mempelajari banyak agama-agama dan menuliskan hakikat pencarianku dalam agama Islam, kemudian Buddha, dan beberapa ajaran lainnya. Lalu aku memiliki gagasan ini dan itu. Aku ingin membangun sebuah lembaga kemanusiaan, memberinya nama, dan ketika semuanya sudah menjadi semakin kuat, tiba-tiba aku tercengang bahwa diujung dari pencarian ini ternyata semua hanya berakhir pada materialisme. Bukankah semua agama agung berbuntut politik, kekuasaan dan kepemilikan? Aku langsung terhenyak bahwa tidak ada yang suci atau sakral lepas dari hedonitas materialisme. Aku langsung mengurungkan niatku pada saat itu juga. Bagiku itu lebih buruk dari pada jika aku bekerja. Bagaimana mungkin aku akan menjual spiritualitas demi kemapanan materialisme? Jika bukan aku siapapun di sekelilingku akan melakukannya juga. Bagaimana aku sanggup menerima kenyataan itu? Jadi jika aku memahami benar-benar hal spiritualitas, itu sama sekali tiada kait mengait dengan materi. Aku harus bisa hidup dengan hakikat spiritualitas yang nyatanya sangat berat. Bahkan kematian dalam kesendirian bisa jadi adalah akhir dari pencarian itu. Sanggupkah aku menjalani spiritualitas yang sedemikian? Aku menahan kesedihan yang sangat mendalam sebab ternyata aku tidak mampu melakukannya. Lalu dalam kondisi itu aku digoda lagi untuk bekerja. Bagiku jika ujungnya sama saja, mengapa aku mesti memperalat spiritualitas untuk mendapatkan materi yang kuinginkan? Bukankah lebih baik jika aku bekerja? Namun tetap saja aku tidak menemukan jalan antara pemenuhan keinginan materialistik hedonisme dan spiritualitas anti materialisme melalui pekerjaan itu, dan lagi-lagi aku terhenti, sebab aku tidak mau menghabiskan kehidupanku untuk hal yang tidak kuinginkan.

 

Tak pelak, 39 tahun hidup kujalani seperti bola pingpong, setiap kali hidup dalam hedonis materialistik aku diganggu oleh gairah spiritualitas dan setiap kali aku masuk ke dalam perjuangan spiritualitas aku digodai oleh hendonis materialistik. Kedua-duanya nyata-nyata hanya jalan buntu. Aku tidak bisa ke manapun. Aku tidak menetapkan langkahku menuju apa yang tidak kuinginkan terjadi dalam kehidupanku. Beberapa teman baikku berkata padaku:  ‘Mengapa tidak kau tetapkan saja langkahku? Pilihlah satu dan jalani saja?” Namun bagaimana aku bisa memilih jika ke dua-duanya bukan yang aku inginkan sebagai satu-satunya jalan. Jika aku menginginkan keduanya celakanya tiada persinggungan antara yang satu dan yang lain. Aku mencoba menarik garis penghubung namun selalu gagal, sebab aku memang tidak menemukan kaitan kedua pemahaman itu. Spiritualitas anti-materialisme adalah suatu yang bertentangan dengan materialisme hedonistik. Dan celakalah aku sebab berada di antara kebuntuan itu. Aku tidak menyalahkan dunia untuk semua hal ini. Aku tidak menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi dan mengapa aku tidak menemukan jalan dan selalu hidup dalam kegundahan hatiku, sebab kedua pilihanku adalah salah atau apapun yang kupilih ternyata hasilnya adalah salah. Namun yang lebih buruk lagi adalah jika ternyata aku tidak memilih keduanya maka aku tidak ke mana-mana, dan aku lebih merasa bersalah lagi, sebab seharusnya aku bisa melakukan sesuatu namun aku tidak melakukannya.

 

Lalu dalam pergumulan yang tak kunjung selesai itu, aku mulai merenungkan lebih mendalam. Adakah cara aku bisa melakukan sesuatu dalam kepenuhan diriku? Atau lebih baik aku memilih satu saja dari kedua pilihan itu dan menjadikannya sebuah langkah hidup yang harus kupertahankan secara konsisten. Aku sudah tidak muda lagi untuk mempertahankan idealisme itu. Aku sudah berniat demikian, namun hatiku tetap berharap bahwa aku akan menemukan jalan yang terbaik dan tentu saja bukan salah satu dari pilihan di atas. Sebab dalam benakku aku berpikir tidak ingin hidup dalam penyesalan, memperjuangkan apa yang bukan menjadi keyakinanku. Berjuang demi apa? Hanya sebuah kemapanan. Aku tidak tertarik sama sekali hidup sekali hanya untuk mendapatkan kekayaan materi. Jiwaku tidak dapat bertaut dengan nyaman dengan keindahan, kecantikan fisik, kekayaan, dan bahkan aku merasa muak dan dihantui rasa bersalah ketika aku tinggal di dalamnya. Namun aku tidak hendak berperilaku naïf sebab ternyata itu juga yang diharapkan tubuhku, namun sesungguhnya itu bukan diriku yang sebenarnya.

 

***

 

Hari ini di sepanjang jalan dari Kopo 15 Km menuju ke kota Bandung, pada pk 14.00 WIB, di atas motor, aku termenung dan mencoba bertanya pada diriku apa yang sebenarnya kucari? Apa yang sebenarnya ingin kulakukan tanpa harus menjadikannya bahan penyesalan? Perlahan-lahan aku memilah, merenungkan, melihat perspektif hidupku, dan akhirnya aku menemukan jawaban itu. Awalnya aku masih ragu. Namun ternyata itu adalah jawaban yang benar. Meskipun ini bukan hal baru. Hal semacam ini sudah kutuliskan bahkan kupahami dan kulakukan sejak 5 tahun lalu atau bahkan jauh sebelum aku menyadari aku melakukannya.

 

Aku memang tidak pernah berhenti bertanya tentang hakikat hidup. Sehingga setiap kali aku bertanya apapun yang kulakukan hancur berkeping-keping jika ternyata itu bukan jalan yang kuinginkan. Seorang rekan menasehatiku bahwa manusia bergumul mencari identitas hidupnya hanya sampai usia 30 tahun dan sesudah itu menetapkan langkahnya. Entahlah dari mana teori itu diambilnya dan mengatakan bahwa selebihnya jika kita tidak bisa menetapkan langkah kita maka kita adalah manusia yang bermasalah. Aku tidak menolak teorinya sebab kini aku berusia 39 tahun dan belum menentukan jalan mana yang harus kupilih dan melakukannya dengan konsisten. Aku juga tidak menolak jika kemudian aku memang menghadapi banyak masalah ketidakstabilan akibat pencarianku itu. Aku tidak bisa bekerja, tidak bisa memutuskan jalan mana yang harus kutempuh, dan kemana aku akan menuju dan semua ketidakpastian. Aku malah menyangka mungkin seumur hidup aku akan berada di persimpangan jalan yang tak kunjung kupilih ke mana aku akan pergi. Namun pada siang ini, sungguh aku menemukan jawaban atas dualistik hidupku yang tiada berhenti. Bagaimana jawaban ini menjawab pergumulan spiritualitas yang kuinginkan dalam hidupku dan pada saat yang sama materialisme hedonistik mencengkeram erat diriku. Jawaban itu sederhana. Kebahagiaan! Apa maksudnya?

 

Selama ini kesalahanku yang paling besar adalah bahwa aku meletakkan ukuran itu di luar diriku yakni pada spiritualitas anti materialisme atau pada hedonitas materialisme. Tentu saja kedua-duanya bertolak belakang. Kedua-duanya memang membuatku bahagia namun kedua-duanya juga membuatku tidak merasa nyaman. Aku tidak menginginkan keterikatan legalistik terhadap konsistensi aturan spiritualitas, namun aku juga tidak ingin hidup hanya demi tujuan materialistik hedonisme semata. Aku memerlukan sebuah alasan yang sangat fundamental. Aku memerlukan sebuah alasan yang sangat kuat untuk menjadi landasan bagiku dalam menjalani kehidupan ini. Aku menolak spiritualitas dan menolak juga materialitas. Jadi apalagi yang tersisa dari keduanya jika aku menolak kedua-duanya?

 

Pada saat itulah aku menemukan jalan itu. Mengapa aku meletakkan landasan hidupku pada sesuatu yang berada di luar diriku? Lalu aku bertanya pada diriu: “Hal apa yang sangat kuinginkan dalam kehidupanku?” Tiada lain dan tiada bukan adalah hidup BAHAGIA. Ya! Inilah jalan itu. Jalan yang menjadi sebuah solusi bagi dualitas kehidupanku yang tak kunjung berhenti. Aku selalu ditarik pada dua kutub antara materialisme dan spiritualitas. Namun dengan landasan kebahagiaan itu justru aku mendamaikan keduanya. Penjelasannya sangat sederhana. Aku tidak lagi menyatakan bahwa aku berbahagia dengan spiritualitas saja yang nyatanya memang tidak, atau sebaliknya dengan materialisme saja sebab nyatanya juga bukan begitu. Jadi jika akhirnya kebahagiaan adalah esensi pencarian hidupku maka apakah masih penting aku mempertanyakan mana materialisme dan mana spritualitas? Tentu saja itu bukan lagi hal utama, sebab yang utama tidak ada lagi dalam prinsip itu, melainkan ada di dalam diriku, dan yang utama di dalam pencarian hidupku adalah KEBAHAGIAAN.

 

Lalu bagaimana aku akan mengejawantahkan pencarianku akan kebahagiaan ini? Bagaimana aku bisa hidup bahagia? Seperti yang kukatakan. Aku menginginkan sebuah pandangan spiritualitas yang mendorong pemenuhan materialistik hedonitas ku, namun bukan sekedar materialitas tak berjiwa. Jiwa materialitas itu haruslah ada yakni kebahagiaan yang sejati. Lalu bagaimana kebahagiaan sejati itu bisa terwujud dalam semangat materialitas hedonistik ini? Yakni dengan tiada terikat padanya. Kita hidup bukan demi tujuan materialisme semata, namun di atas materialitas itu ada esensi tujuan yang lebih besar yakni kebahagiaan. Sebaliknya kita juga tidak menjalani spiritualitas saja, namun di atas itu semua itu ada hakikat kebahagiaan.

 

Berbicara tentang kebahagiaan, inilah beberapa kondisi kebahagiaan tersebut:

 

Kebahagiaan di mana kita tahu bahwa hati kita tenang dan tentram. Ia tidak goyang oleh situasi apapun. Ini bukan kebahagiaan situasional, melainkan sesuatu yang ada dan bersifat menetap di dalam hati kita. Jika ada kebahagiaan yang muncul sesaat misalnya pada saat kita memiliki uang banyak kita merasa bahagia, namun merasakan tekanan berat ketika tidak memilikinya, atau bahagia sebab merasa aman, namun dalam kesusahan merasa depresi, sesungguhnya itu bukan kebahagiaan yang sesungguhnya atau kebahagiaan situasional saja. Kesenangan sesaat dalam kehidupan ini sebelum kita menjadi sedih kembali sebab kebahagiaan kita tergantung di luar diri kita pada hal-hal yang bersifat materi saja. Sedangkan kebahagiaan ini bersifat tetap, memancar dari dalam diri kita, dan tidak dipengaruhi oleh situasi apapun. Bagaimana kebahagiaan seperti ini bisa muncul dalam kehidupan kita? Hal itu terjadi sebab kita dapat melihat ke dalam diri, mampu melihat kekurangan dan kelebihan, merangkulnya menjadi suatu pribadi yang utuh dan menerima diri apa adanya. Namun jika kita melihat tuntutan di luar diri kita lebih penting dari pada eksistensi diri kita, maka sudah barang tentu kita akan selalu tinggal dalam ketidakbahagiaan. Mengapa? Sebab kita tidak mengenali siapa diri kita sebenarnya, dan melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan diri kita. Ini adalah kebahagiaan yang berangkat dari pengenalan diri.

 

Mengenal sang aku dan hidup menurut kata sang aku yang sebenarnya adalah diri kita yang sebenarnya.

Selain itu ada juga kebahagiaan yang berasal dari hubungan interaksional dengan orang lain. Kita adalah makhluk sosial yang kehidupan kita tiada lepas dari keberadaan orang lain di sekeliling kita. Kita memiliki rasa cinta dalam diri kita dan membutuhkan obyek orang lain di mana perasaan itu bisa ditujukan. Kita ingin melakukan kebaikan dan ingin melakukan itu bagi orang lain. Namun meskipun demikian kita mesti mawas diri, bahwa ternyata pada saat kita merasa melakukan untuk orang lain, kita sedang melakukan untuk diri kita sendiri. Saya bisa pastikan bahwa kita adalah makhluk individualis yang hanya bisa mengasihi diri sendiri lebih banyak dari pada orang lain. Pada saat kita mengatakan mengasihi orang lain pun sesungguhnya kita sedang mengasihi diri sendiri. Namun bagaimanapun juga kita membutuhkan orang lain menjadi obyek bagi curahan perhatian dan kasih sayang kita. Kita selalu ingin membahagiakan sesama, paling tidak orang-orang atau makhluk yang kita cintai.

 

Kebahagiaan yang selanjutnya adalah kebahagiaan yang berasal dari dunia materialistik. Kebahagiaan yang lahir dari kepemilikan atas sesuatu yang kita anggap dapat menaikkan harga diri kita. Harta benda, status, jabatan dan lain sebagainya bisa memberikan kebahagiaan dalam kehidupan kita. Memiliki kekuasaan adalah salah satu bentuk kebahagiaan yang muncul dari kebanggaan atas pencapaian manusia kita. Kita menjadi manusia yang terpandang, memiliki pengaruh, memiliki keamanan finansial, memberikan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Dengan kemapanan kita dapat mencapai apa yang kita inginkan dan memiliki kepuasan atas pemenuhan terhadap keinginan tersebut. Materi bukan segala-galanya bagi arti kebahagiaan kita, namun pemenuhan materi mampu memberikan rasa aman dan kebahagiaan dalam kehidupan kita. Kemiskinan tidak selalunya buruk, namun banyak orang miskin yang sedih sebab keinginan materialistiknya tidak terpenuhi.

 

Kebahagiaan dari kemiskinan. Jika materi mampu memberikan kebahagiaan, sebaliknya kemiskinanpun mampu memberikan kebahagiaan dalam perspektif yang benar tentunya. Seringkali bahwa kebahagiaan materialistik kemudian menjadi semu dan mengikat. Kita tidak mampu lagi melihat diri kita apa adanya dan diikat oleh belenggu materialisme dalam menjalani kehidupan ini. Kemiskinan seakan-akan menjadi kutuk yang mematikan, sebab kemudian kita tidak lagi mampu memiliki apa yang kita ingin miliki. Kita sering merasa dipandang rendah sebab tidak memiliki harta benda apapun. Padahal kemiskinan tidak selalunya adalah kutuk. Kemiskinan justru membatasi kita agar bisa hidup seperlunya saja. Dalam dunia materialistik banyak orang tersesat dan hidup dalam kehampaan sebab disangkanya hanya materi yang mampu memberikan kebahagiaan melalui berbagai pemenuhan keinginan. Materi memang baik namun bukan segalanya. Bahkan materi adalah yang kedua setelah kita mampu untuk mengenali siapa diri kita yang sebenarnya. Lebih penting bagi kita untuk menemukan siapa diri kita dari pada menemukan harta benda.

 

Pada semua hal di ataslah aku menemukan esensi kebahagiaan. Aku menemukan kebahagiaan di dalam diriku, di dalam kemiskinanku, di dalam hubunganku dengan sesama, di dalam tanpa apapun yakni menjadi aku apa adanya aku. Aku merasa puas dengan kondisiku, bagaimanapun keadaannya. Dan akhirnya dalam kondisi ini, aku malah menemukan apa yang seharusnya kulakukan secara tepat bagi keberadaanku.

 

Lalu aku kemudian berpikir, mungkin ada baiknya jika kemudian aku mengembangkan pola berpikir yang mungkin saja bisa membantu banyak orang. Pertanyaannya sederhana, apakah engkau merasa bahagia? Apakah engkau merasa kehidupan yang engkau miliki sudah membuatmu senang? Apa yang paling kau inginkan dalam kehidupanmu terjadi? Apakah engkau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan? Lalu dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kurasa aku bisa membantu mereka untuk menemukan dirinya yang kemudian digunakan menjadi landasan bagi seseorang untuk membangun kebahagiaan hidupnya.

 

Aku melihat bahwa di dunia ini ada banyak orang tidak merasa bahagia dalam kehidupannya. Ada banyak alasan. Mereka mencoba mencari kebahagiaan, namun selalu saja tidak menemukan. Ada yang merasa tertekan dengan kehidupannya. Ada yang seolah-olah bahagia, namun sebenarnya semua yang dijalaninya hanyalah topeng kesia-siaan dan tiada menemukan apa yang disebut dengan kebahagiaan. Aku sudah berbicara dengan beberapa orang yang ada dalam kondisi ini, dan bahkan membantu mereka untuk menemukan kehidupan yang lebih baik. Dan ada banyak di antara mereka yang akhirnya memiliki kehidupan yang lebih baik.

 

Kurasa ini akan menjadi sebuah misi kehidupanku. Sebuah misi yang sangat luar biasa di mana aku bisa membantu banyak orang untuk menemukan kebahagiaan dalam kehidupannya. Dan sesungguhnya aku sudah melupakan perbedaan antara materialistik dan spiritualitas pada diriku, sebab bagiku sekarang ukurannya bukan lagi pada makna kata itu sendiri melainkan pada pemahaman tentang hakikat kebahagiaan. Felix salutem. (amos adi/Bandung/6/11/2010)