seni hidup

seni hidup (the art of living)

Pewahyuan Modern: Penampakan Sang Ilahiah


Tiada Surga Tiada Neraka yang Ada Hanya Kehidupan di Dunia ini

Pasal 1

Saat aku berdiri di sebuah padang luas, aku melihat sosok bayangan putih melayang melintasi langit malam kira-kira sebelum jam 12 malam. Bayangan itu bergerak sangat cepat dari Timur menuju ke Barat namun tiada suara selain senyapnya malam. Anginpun berhembus perlahan menerpa wajahku saat memandang kilatan cahaya itu. Lalu aku melihat cahaya itu kembali dari arah barat menuju ke timur namun kemudian berhenti tepat di atasku dan perlahan-lahan turun di hadapanku.

Cahaya sangat terang namun tidak menyakitkan mata. Malahan cahaya itu begitu sejuk dan menentramkan jiwaku. Lalu aku mencoba memandangi cahaya itu yang perlahan-lahan memudar dan nampaklah sosok tubuh manusia namun putih bersinar. Lalu aku memandangi wajahnya nampak putih bersinar penuh dengan kelembutan. Lalu aku melihat nampak sosok wajah-wajah yang sepertinya pernah kukenal dalam kehidupanku turut menyapaku dengan senyuman hangat. Tapi aku sungguh tidak sempat lagi memikirkan siapa mereka. Aku hanya bisa bisa berdiri terpukau di hadapannya dalam perasaan takjub yang sangat luar biasa.

Belum hilang rasa takjubku, tiba-tiba sosok tangan terjulur dari bayangan putih itu dan menyentuh bagian atas kepalaku. Hatiku langsung terasa luluh dan aku merasakan kebahagiaan mengalir tiada tara di dalam diriku. Lalu tiba-tiba aku mendengar suara lembut berbisik di telingaku.

“Hari ini aku akan memberikan rahasia kehidupan bagimu.”

***

Pasal 2

Aku hendak menjawab dan sekaligus bertanya tentang apa yang terjadi ini, namun bibirku terasa terkunci rapat. Tenggorokanku tercekat erat. Aku tidak mampu berkata-kata dan aku merasa dipenuhi oleh perasaan haru yang sangat dalam. Aku hanya mampu tertunduk dalam hatiku terpekik lirih: “Baiklah aku siap menerima rahasia itu.”

Tiba-tiba pikiranku menimpali suara hatiku: “Bukankah engkau memang selalu bertanya-tanya tentang arti hakikat keberadaan kehidupan ini?” Aku hanya diam dan mengiyakan sesuatu yang muncul di benakku itu.

Lalu kembali aku merasakan sebuah enerji hangat mengalir di atas kepalaku, masuk ke dalam tubuhku, berdesir menyelusuri setiap pembuluh darahku. Dan melaju dengan cepat ke kepalaku yang tiba-tiba membukakan simpul-simpul kebodohanku dan aku merasakan sebuah pencerahan yang sangat hebat.

Pengetahuan yang luar biasa masuk ke dalam benakku bagaikan kilatan-kilatan cahaya yang berkedipan. Cukup lama aku harus berdiri merasakan pengetahuan demi pengetahuan tentang rahasia itu mengisi benakku. Lalu pelahan aku mendengarkan lagi Sang Ilahiah itu berbisik di telingaku:
“Pengetahuan ini adalah salah satu jalan bagimu untuk mengetahui tujuan kehidupanmu di dunia ini, dan kemana engkau akan pergi setelah masa-masa hidupmu di dunia ini berlalu.”

***

Pasal 3

Mungkin kita sering bertanya pada diri sendiri, mengapa aku ada di dunia ini dan kemana aku akan pergi? Sebuah pertanyaan yang terus menerus mengiang dalam kehidupan ini apalagi ketika kita diperhadapkan pada sebuah kenyataan bahwa semua orang cepat atau lambat akan mengalami kematian.

Kemana aku akan pergi jika tubuhku mati? Ada banyak jawaban yang kuketahui, namun jawaban itu sungguh tidak memuaskan diriku.

Dan inilah pengetahuan yang diberikan oleh sang Ilahiah itu:

“Tidak ada surga atau neraka. Juga tidak ada kelahiran kembali di dunia ini. Semua itu hanya ilusi. Manusia mendambakan suatu keadilan bagi dirinya, selagi ia ada di dunia ini sehingga keyakinan surga dan neraka atau kelahiran kembali itu muncul. Namun sesungguhnya itu bukan jalannya, kemana manusia akan pergi setelah hidup yang dimilikinya di dunia berlalu.”

“Jika surga tidak dan neraka bukan, dan kelahiran kembali juga tidak, lalu ke mana manusia akan pergi wahai siapakah engkau ini?”

“Manusia tidak pergi ke mana-mana bahkan setelah kematiannya. Ia akan tetap tinggal di dunia ini.”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Manusia dilahirkan dan tumbuh dewasa, dari kondisi kosong hingga membentuk jati dirinya, dan juga kehidupan yang dimilikinya, termasuk hidup di antara mereka atau apa yang dicintainya di dunia ini. Aku katakana padamu bahwa semua itu tidak akan berlalu dari hidupnya meskipun kematian memisahkan dirinya dari kehidupannya yang ada di dunia.”
“Maksudnya?”

“Jadi ketika seseorang mati, ia tidak pergi meninggalkan dunia ini sebab Ia akan hidup dalam ingatan mereka yang hidup dekat dengan dirinya.”

“Bagaimana aku bisa lebih mengerti penjelasan ini?”

“Misalnya ketika seorang ayah meninggal, ia akan terus hidup di dalam kenangan anak-anaknya di dunia ini. Sehingga jika kenangan itu baik atau ketika ia hidup di dunia ini penuh dengan kasih sayang, itu akan menjadi sorga bagi kehidupannya yang baru sesudah kematian, sebab ia akan selalu dikenang sebagaimana ia pernah hidup di dunia ini.”

“Jadi manusia akan tinggal di dalam diri manusia lain atau mereka yang dicintainya?”
“Ya tepat begitu. Sehingga tidak ada keterpisahan yang membuat manusia harus takut pada kematian sebab kematian tidaklah memisahkan, justru menyatukan.”

“Begitukah?”

“ Sebaliknya jika kenangan seseorang itu buruk atau suatu kehidupan yang diisi dengan kebencian, maka kehidupannyapun akan tinggal dalam suatu keterpisahan, dan itulah neraka bagi mereka yang hidup sebagaimana ia pernah hidup di dunia ini. Tidak ada orang yang mau mengingatnya, bahkan orang-orang yang dekat dengan dirinyapun membencinya.”

“Oh jadi itukah maksudmu tidak ada sorga dan tidak ada neraka?”

“Ya benar. Yang ada sebenarnya adalah kenangan yang baik dan yang buruk. Itulah sesungguhnya makna ungkapan surga dan neraka bagi kehidupan manusia. Ketika manusia mati ia tidak pergi ke mana-mana selain tinggal di hati orang-orang yang mencintainya atau sebaliknya hilang dari hati orang-orang yang membencinya.”

“Begitukah akhirnya manusia akan pergi setelah kematian?”
“Ya. Begitulah kehidupan manusia setelah kematian menjemputnya. Tubuhnya mati, namun jiwa atau rohnya tidak pernah hilang dan akan tetap tinggal di dunia ini, hidup di dalam hati orang-orang yang mencintainya. Hal ini berarti, bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini, itu akan menjadi bekal bagi kehidupannya nanti.”

***

Pasal 4

“Lalu apa pesannya jika memang benar demikian wahai Sang Ilahiah?”

“Pesannya adalah milikilah kehidupan yang baik dan penuh dengan cinta kasih. Kita hanya hidup hari ini dan sekali saja di dunia ini. Dan apa yang kita lakukan di dunia ini itulah yang akan menjadi landasan bagi kehidupan kita di masa yang akan datang. Jadi aku sungguh menginginkan agar seorang hidup dalam cinta kasih, dan membuang jauh-jauh amarah dan kebencian dalam dirinya, supaya ia dikenang di hati orang-orang yang mencintainya. Sebab di sanalah ia akan hidup selama-lamanya.”

“Lalu bagaimana dengan Tuhan yang di sorga. Tidakah Ia menjadi tujuan bagi manusia yang telah mati?”
“Bagaimana ia akan menjadi tujuan, jika keberadaanNya juga ada di dunia ini bersama manusia, dan tidak pernah ada di suatu tempat lain di jagad raya ini? Sebab Tuhan adalah semangat kebaikan. Ia hidup di dalam diri setiap manusia yang hidup. Ia adalah semangat cinta kasih yang menerangi jalan-jalan manusia, keluar dari sisi gelap kehidupannya, sehingga manusia tidak jatuh dalam kejahatan, melainkan melakukan kebaikan dan cinta kasih.”

“Aku sungguh tidak tahu demikian.”

“Ya itulah kebenaran. Tuhan bukan sekedar tujuan kemana manusia akan pergi setelah kematian, melainkan sebuah hakikat yang menyemangati kehidupan manusia di dunia menuju kebaikan demi kebaikan dan cinta kasih. Sehingga ketika seseorang hidup dalam cinta kasih dan kebaikan ketika ia mati bahkan ketika ia masih hidup, ia telah hidup bersama Tuhan di dunia ini. Jadi tidak perlu suatu tempat khusus di mana Tuhan dan manusia berkumpul seperti yang engkau sangkakan.”


Pasal 5

“Jadi apakah maksudmu semuanya ada di dunia ini?”

“Ya benar demikian.Keberadaan Tuhan, manusia baik yang hidup maupun yang mati, semuanya ada di dunia ini. Dunia ini adalah ladang di mana kebajikan disemai. Benih kebaikan dan cinta kasih yang ditabur di dunia ini akan tumbuh berbuah kebahagiaan bagi semua mahkluk, sebaliknya benih kejahatan yang ada di dunia ini hanya akan mendatangkan kesedihan dan kehancuran.”

“Siapakah yang sebenarnya sumber bagi kejahatan di dunia ini?”

“Kejahatan tidak ada di mana-mana selain di dalam diri manusia sendiri. Kejahatan muncul karena ada keinginan yang berlebihan tanpa kendali dalam diri manusia. Kejahatan terjadi ketika manusia tidak sanggup menghentikan keinginannya itu. Kejahatan adalah sebuah pemaksaan pribadi yang hanya mau mewujudkan keinginan dirinya sendiri saja, tanpa melihat akibat apakah apa yang dilakukannya itu mendatangkan kebaikan atau keburukan bagi kehidupan orang lain. Kejahatan ingin hidup bagi dirinya sendiri dan menguasai dalam kegelapan hatinya.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan untuk melawan kejahatan?”

“Manusia harus mampu untuk mengendalikan diri dan mempertimbangkan akibat dari tindakannya. Jika sebuah tindakan yang ia lakukan ternyata lebih banyak mendatangkan kerusakan atau kebencian atau kejahatan itu sendiri, maka ia harus mampu mengendalikan dirinya. Sebaliknya jika sebuah tindakan memberikan lebih banyak kebaikan sebagai akibatnya, maka bergiatlah untuk melakukannya. Sebab apa yang kita tabur di dunia ini, akan kita tuai dalam kehidupan kita di masa yang akan datang. Menabur kebaikan hidup akan menuai kebahagiaan, sebaliknya menabur kejahatan hanya akan menuai kesengsaraan.”

“Aku jadi semakin mengerti apa yang harus aku lakukan di dunia ini. Dan sungguh bahwa kematian tidak lagi menakutkanku. Aku tidak menyukai kenyataan bahwa ketika aku menemui ajalku aku tidak lagi dapat berhubungan dengan semua yang kucintai di dunia ini. Bahkan aku tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh akan bertemu dengan mereka lagi di dunia yang aku tidak pahami.”

“Sesungguhnya engkau tidak akan pernah kehilangan mereka. Jadi apa yang kaupahami itu keliru. Engkau tidak akan berpisah, melainkan menyatu di hati orang-orang yang kau cintai. Tidak hanya menyatu, engkau juga akan memberikan inspirasi bagi mereka untuk terus memperjuangkan apa yang engkau percayai di dalam kehidupan mereka. Kebaikanmu di dunia ini akan terus menerus menjadi inspirasi bagi mereka yang hidup. Jadi kematian sungguh bukanlah perpisahan melainkan penyatuan.”


Pasal 6

“Lalu bagaimana jika dunia ini berakhir atau akan hancur?”

“Dunia ini tidak akan pernah hancur, sebab Tuhan melindunginya. Ada manusia-manusia yang memang dengan sengaja atau tidak sengaja mencoba menghancurkan dunia ini, namun dunia ini akan tetap ada. Manusia dan segala makhluk hidup di dalamnya tidak akan pernah musnah sebab Tuhan memelihara dan menjaga dunia ini dengan segala daya dari penghancuran. Dunia ini kekal adanya sebab di sanalah manusia meletakkan landasan kehidupannya. Dunia adalah sebuah ladang perjuangan bagi keberadaan manusia yang diberikan Tuhan. Jadi kelirul jika ada yang menganggap bahwa dunia ini akan hancur dan musnah sebab Tuhan benar-benar sudah dan akan terus memeliharanya.”


Pasal 7

“Sungguh semua ini baru kudengarkan wahai Sang Ilahiah. Lalu siapakah engkau sebenarnya mengetahui semua rahasia kehidupan ini?”

“Aku adalah Sang Kebaikan. Aku adalah Sumber Segala Kehidupan. Aku berjuang bersama manusia untuk manusia tanpa pamrih selain bagi terwujudnya kebahagiaan manusia sendiri. Akulah Sang Ilahiah. Akulah sang jalan menuju kebahagiaan bagi manusia. Akulah Tuhan.”
Mendengar pengakuan itu, tubuhku gemetar dan aku jatuh bersujud di hadapannya. Aku tidak mampu lagi berkata-kata selain sujud menyembahnya. Namun tiba-tiba aku merasakan tangan yang lembut membangkitkanku dari sujudku. Bahkan menengadahkan wajahku untuk melihatNya.


Pasal 8

“Tidak boleh melakukan yang sedemikian anakku. Sesungguhnya, keberadaanku sebagai Tuhan bukan untuk disembah. Aku ada untuk melayani umatku. Aku ini Bapa bagi segala makhluk dan Ibu bagi segala kehidupan. Aku ada untuk memelihara mereka dan bukan untuk disembah di dunia ini. Kelirulah pemikiranmu itu jika engkau mengira Aku mau engkau menyembahKu. Aku berkehendak supaya manusia mau bekerja bersama denganKu, membangun dunia yang lebih baik, bukan dengan sujud menyembah. Dunia yang lebih baik adalah sebuah dunia yang penuh dengan cinta kasih, agar di sana manusia menemukan jalan menuju kebahagiaan baik dalam kehidupan saat ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.”

Perlahan air mataku meleleh. Tidak pernah aku mendengarkan ada Tuhan yang seperti ini. Tuhan yang mau berjuang bersama manusia untuk membangun dunia yang lebih baik.

“Dan karena dunia ini tidak akan pernah berakhir, maka perjuangan demi kebaikan dan cinta kasih di dunia juga tidak akan pernah berakhir. Dan Aku engkau bekerja bersama diriKu. Inilah sebuah panggilan yang telah dan akan terus Aku suarakan kepada umatKu, supaya mereka semua mengikuti jalan-jalanKu.”

Pasal 9

Aku semakin takjub mengenal siapa Tuhan yang sesungguhnya. Sungguh pemahaman itu jauh dari apa yang pernah aku pahami selama ini. “Puji syukur, aku sudah mengenalMu ya Tuhan dan aku mau berjuang di jalan-jalanMu. Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Ini baru permulaanmu. Aku ingin engkau menyampaikan kebenaran ini agar semua makhluk yang mendengarnya menemukan pengenalan yang benar akan Aku sehingga mereka akan menemukan jalan kebahagiaan. Beritakan kepada keluargamu, saudaramu, sahabat dan teman-temanmu, orang-orang yang engkau cintai, di mana kamu akan berdiam di hati mereka ketika engkau meninggalkan dunia ini. Ajarkanlah supaya sesama manusia saling mencintai.”

Demikianlah sang ilahiah telah memberikan pernyataannya kepadaku malam itu.

Dari seorang hamba Allah yang Menjadi Sumber Cinta Kasih dan Kebaikan.
Ingatlah aku yang telah menyampaikan kabar baik ini kepadamu.

amos adi/bandung/2010/fiksi)