seni hidup

seni hidup (the art of living)

buddha nusantara sutta

Prolog

Bermalam-malam mataku terjaga mencoba untuk mencari jawab.
Siang hari kudulangi air di empang kehidupan ini.
Dan jiwaku tak pernah berhenti bertanya: “Apa makna keberadaanku?”

Mengapa ada dunia? Mengapa ada hidup dan mati?
Jika ini adalah hidup yang kujalani? Lalu apa kematian itu?
Kemana aku akan pergi?
Lalu aku menemukan sang Buddha.
Dan aku bergiat mencari jawab padanya.

Inilah jawaban itu.
Aku ingin menjelaskannya kepadamu.
Bagi eEngkau yang menginginkan Kebenaran.
Sebagai perisai yang melindungi kehidupanmu di kala ia menjadi tanpa arah.

Buddha adalah sang jalan.
Jalan menuju kebahagiaan.
Ketika engkau menemukan jawab dan mengetahui Kebenaran yang membebaskan darinya.
Inilah pembabaranku.
Namo buddhaya.

Semoga budi dan niat baik terbalaskan.
Dan semua makhluk berbahagia dalam dharma sang Buddha.


1
Kutemukan kebenaran itu.
Dan inilah kebenaran yan kumaksudkan.

Buddha artinya menuju.
Menuju pada suatu apa dan di mana?
Itulah yang seharusnya engkau cari.
Yakni mengapa dan apa dirimu itu dan (serta) kemana engkau akan menuju.
(Bukankah itu yang selama ini engkau cari? Baik secara sadar maupun tiada mengetahui
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya)
Apa dirimu tidak ada di luar dirimu melainkan ada di dalam dirimu.
Jadi bagiku Buddha adalah sebuah ajaran tentang (pencarian) aku dan menuju.

Sehingga ketika dalam suatu kondisi diriku bertanya, “Tunjukkan jalanku.”
Pada siapa sangkamu kupinta untuk menuju?
Tentu saja pada diriku sendiri.
Sebab hakikat menjadi seorang Buddha adalah menjadi si aku yang menuju.
(Sehingga dengan teguh aku berkata padamu: “)Dirimu (sendiri)lah penunjuk jalan(“).

***

2
Namun bagaimana (cara) si aku menjadi penunjuk jalan bagimu?
(Tentu) Eengkau harus menemukan si aku dirimu (terlebih dahulu).
Temuilah si aku dirimu dan bertanyalah.
Siapa aku, untuk apa aku ada, dan ke mana akan menuju?

Sebab sang Buddha sendiri adalah aku seseorang yang telah menemukan diri sang aku dirinya(.)
Jadi (ber)tanyalah siapa aku dirimu (maka engaku akan tahu kemana) akan menuju?

***

3
Buddha (Gotama) menuju pohon bodhi(.)
(Di sana) Dia bertemu dengan aku dirinya di situ
Dipuncak pencariannya akhirnya dia hanya bertanya apa yang aku dirinya mau?
Lalu dia minum dari susu seekor kambing.

Sehingga marahlah mereka yang mengikuti diri sang Buddha (Gotama) dan mencercanya
Sungguh perilaku pertapa degil yang meninggalkan keyakinannya.
Apa yang kau lakukan wahai Gotama?
Mengapa kau berperilaku degil? Minum di kala kita semua lapar?
Bukankah engkau yang mengajak kami berpuasa dan bertapa?
Sungguh bagaikan panas setahun yang kauhapuskan sendiri dengan hujan sehari.
Lalu bagaimana kami akan percaya pada asketik degil seperti dirimu?

Apakah Gotama peduli dengan perkataan lima sahabatnya yang setelah mencacinya kemudian meninggalkan dirinya?

Itulah si aku.
Aku diri Sang Gotama.
Aku yang adalah dianggap degil menurut cara-cara (dunia) (ke)pertapa(an), namun itulah sejatinya sang Buddha.
Aku (Gotama) yang dianggap degil (itu) ternyata (justru) telah menyempurnakan dirinya
Ia tidak lagi mendengar apa yang dunia katakan selain aku dirinya.

“Minumlah!”

Lalu dia minum susu kambing yang menyelamatkan aku dirinya dari deraan dan aturan kendali dunia yang bukan berasal dari (dalam) aku dirinya.
Dan terbukalah jalan baginya (Gotama) menuju ke-Buddha–an.
***

4
Lalu bagaimana jika Gotama tidak penah bertemu dengan aku?
Maka nasibnya akan sama seperti bikkhu lain di jamannya.
Hatinya akan tetap melekat pada aturan dunia yang membunuh aku dirinya.
Hatinya tiada akan terbebaskan untuk melihat kebenaran aku dirinya apalagi hendak menuju.
Hatinya akan diliputi kegalauan sebab meskipun yang baik dilakukan oleh aku.
Tiadalah si aku dirinya menjadi bahagia sehingga tiada pernah ia akan menuju.

Seperti seekor anak kambing yang terikat di pohon.
Aku dirinya hanya akan berputar-putar saja di sekeliling pohon itu.

Itulah sebabnya Gotama meninggalkan para Bhikku Alara Kalama dan Uddaka.
Sebab mereka tidak mempertemukan Gotama dengan si aku dirinya.
Seperti seekor anak kambing yang terikat di pohon.
Dirinya hanya akan berputar-putar saja di sekeliling pohon itu.

Maka aku mengundangmu: “Belajarlah dariku.“
Aku akan membabarkan jalan bagimu.
Bagaimana engkau dapat melepaskan kekangmu.
Bertemu dengan sang aku dirimu sehingga engkau mampu untuk menuju (sang Buddha).
Seperti yang aku sendiri telah pelajari.
Dari kisah kehidupan sang Buddha sejati.
***
5
Setelah bertemu dengan aku dirinya.
Barulah Gotama mendapatkan pencerahan.
Saat ia bejumpa dengan aku dirinya.
Satu demi satu rahasia kehidupan yang dicarinya terkupas pelahan.
Setiap pertanyaan yang tak terjawab dari aku dirinya memperoleh jawaban.

Aku dirinya menjadi jalan baginya untuk menemukan kebahagian.
Kebahagiaan yang tumbuh dengan segar.
Bagaikan bunga lotus yang tumbuh di 7 jejak tapak kakinya yang menandai kelahirannya.

***
6
Jika Buddha hakikatnya adalah siapa aku.
Dan jika (ketika) engkau tidak mengenal aku dirimu?
Bagaimana engkau akan mengerti apa yang telah dicapai sang Buddha?

Jika Buddha adalah menuju setelah menemukan jawaban siapa aku?
Bagaimana engkau sendiri akan menuju jika engkau tidak pernah menemukan aku dirimu?
Sungguh hidupmu tidak memiliki landasan yang kokoh.
Dirimu bagaikan rumput liar yang tumbuh tidak beraturan.
Engkau tidak tahu apa yang baik dan yang buruk bagi dari dirimu.
Sehingga tak heran jika engkau selalu bertanya di luar dirimu.
Tentang apa yang baik dan apa yang buruk bagi dirimu.

Sesungguhnya engkau tidak lebih dari pada murid-murid yang gagal dalam mempelajari arti kehidupan.
Engkau sudah gagal bertemu dengan aku dirimu apalagi bergerak menuju.
Sehingga saat ini sesungguhnya engkau bukanlah aku dirimu.
Melainkan bentuk dari pikiran orang-orang yang ada di sekelilingmu.

***
7
Barangkali aku melalui tulisan ini (engkau) juga telah menjadikan aku bagian dari aku dirimu.
Sama seperti (tulisan tentang) sang Buddha yang telah menjadi aku diriku.
Atau sang (kisah tentang kehidupan) Yesus Kristus yang juga menjadi aku diriku.

Tapi (meskipun demikian) tidak semua aku mereka adalah aku diriku.
Aku mereka yang menjadi aku diriku sesungguhnya adalah aku diriku yang ada (di) dalam aku mereka.
Jika aku diriku menerima aku mereka(,) sebab (hal itu dikarenakan) aku memang menemukan aku diriku di dalam aku mereka.
Sehingga aku diriku sendirilah sang penunjuk jalan.
Bukan mereka.

***
8
Lalu jika aku diriku adalah penunjuk jalan, lalu siapakah mereka?
Mereka adalah inspirasi bagi aku diriku.
Mereka adalah teladan yang telah lebih dahulu menemukan aku dirinya dengan sangat baik.

Mereka adalah guru bukan untuk ditiru.
Mereka adalah para guru inspirasi.
Sebab melalui mereka aku dapat menemukan sebagian aku diriku di dalam pengalaman aku mereka.
Jalan-jalan ular berkelok-kelok.
Namun ada banyak jalan ular yang sama kelokannya.

***
9
Ada banyak ajaran kebajikan di dunia ini.
Namun tidak semua kebajikan itu adalah aku dirimu.
Engkau sesungguhnya hanya tepat bagi kebajikan yang bersesuaian dengan jalan aku dirimu.

***
10
Engkau bertanya apakah ini baik? Atau ini buruk?
Menurut sangkamu siapa yang akan bertanggung jawab jika seseorang memberikan jawaban ini baik atau ini buruk?
Lalu ternyata engkau tiada berbahagia mengikuti jawaban itu?

Bukankah sang Adi Buddha sendiri mengajarkan:
“Jangan engkau begantung pada orang lain di luar dirimu, melainkan kembangan keyakinan dari dalam dirimu sendiri. Sebab pertolongan itu tidak ada di luar dirimu selain yang sudah ada di dalamnya.”

Saya juga akan mengatakan kepadamu saudara dan saudariku:
Bertanyalah kepada aku dirimu terlebih dahulu sebelum engkau melihat apa yang ada di luar dirimu.
Jika aku dirimu merasa sesuatu itu baik apakah penting apa yang orang lain katakan tentang hal itu?
Dan jika Gotama tidak mendengarkan aku dirinya, sesungguhnya tidak akan pernah ada pencerahan itu. Kebuddhaan hanyalah menjadi ilusi tanpa kenyataan.

Atau jika aku dirimu me(kau)rasa itu tidak baik, apakah (kemudian) engkau akan takut mengatakannya demikian (yang sebenarnya) meskipun dunia menentangmu?

Sungguh jika engkau tidak mampu melakukan itu
Engkau masih jauh dari jalan menuju sang Buddha
Jika aku dirimu saja engkau tidak mampu mengendalikannya
Bagaimana mungkin kemudian engkau mengatakan akan meniadakannya?

***
11
Untuk meniadakan aku dirimu, engkau harus mengenal aku yang mana dari dirimu yang harus ditiadakan?
Aku dirimu yang harus ditiadakan itu sesungguhnya bukan dirimu, melainkan dunia yang ada di dalam dirimu.
Buddha tidak meniadakan aku dirinya.
Yang ditiadakan adalah aku yang bukan dirinya.
Dan aku yang tiada menuju.
Namun aku yang menuju tidak ditiadakan sebab itulah jalan menuju Buddha.
Sehingga Gotama menemukan jalan bagi aku dirinya.

Jadi aku yang membuat dirimu terhalang untuk menuju kepada sang Buddha.
Itulah aku yang harus ditiadakan.
Sebab ia sebenarnya bukan aku dirimu melainkan aku dunia yang bukanlah sesungguhnya bagian dari dirimu.

***
12
Apa itu aku yang menuju dan aku yang tidak menuju?
Apakah hatimu tidak mengatakan sesuatu kepadamu?
Jika hatimu saja diam.
Bagaimana engkau akan tahu yang mana adalah aku dirimu yang menuju dan yang tidak menuju?
Atau engkau tidak mampu menemukan aku dirimu?
T(id)ak heran jika engkau diam dan selalu bertanya di luar dirimu.
Sebab engkau memang belum menaklukkan aku dirimu
Padahal sang Buddha mengajarkan:
“Meskipun seseorang menaklukan sejuta orang di medan laga, namun hanya yang menaklukkan dirinya adalah pemenang yang paling mulia.”

***
13
Lalu bagaimana engkau akan menaklukkan aku dirimu?
Engkau harus dapat mengenali dirimu sebelum meniadakan yang seharusnya tiada dan membiarkan tinggal yang seharusnya ada.
Aku yang menuju adalah aku dirimu yang seharusnya ada.
Dan aku yang tiada menuju adalah yang seharusnya tiada.

Aku yang menuju adalah aku dirimu yang bersemangat untuk mempelajari dan melakukan dharma.
Dan aku yang tiada menuju adalah aku dirimu yang diam dan selalu mengandalkan dunia di luar dirinya.
Sehingga adanya aku dirimu hanyalah demi sang dharma.
Bukan demi apapun apalagi demi yang seharusnya tiada
***

14
Lalu apa dharma itu?
Jika dharma adalah kebajikan utama apa kebajikan utama bagimu?
Bukankah sudah kukatakan berulang-ulang di atas bahwa kebajikan utama bagimu adalah pada sang aku?
Bagaimana mungkin engkau dapat melakukan dharma jika tiada pernah bertemu sang aku dirimu?
Jadi temukanlah terlebih dahulu sang aku dan jadikanlah sang aku dirimu penunjuk jalan bagimu.

Engkau harus mampu menempatkan aku dirimu lebih tinggi dari pada aku yang bukan dirimu atau aku mereka.
Sebab sesungguhnya hanya aku dirimu lah penunjuk jalan sejati bagimu.
Hanya aku dirimulah yang mampu membebaskan dirimu menemukan kebenaran sejati.
Itulah dharmamu. Ssebelum engkau akan menuju pencerahan sang Buddha.

***




15
Ada tiga tindakan utama berdharma
Pertama senantiasa bergerak menuju pencerahan sang Buddha
Dengan cara meniadakan yang ada yang seharusnya tiada dan mengadakan yang tidak ada yang seharusnya ada pada aku dirimu
Kedua selalu menyadari hadirnya karma dalam kehidupan ini.
Jika kita (engkau) yakin bahwa apa yang ada hari ini adalah akibat karma masa lalu, maka kita dapat menentukan karma masa yang akan datang, dengan apa yang kita lakukan hari ini sehingga dengan demikian engkau tahu kemana engkau akan menuju.
Ketiga selalu melihat, mengamati, meyakini dan melakukan kebajikan.
Dalam melihat engkau dapat mengamati, dalam mengamati engkau dapat meyakini dan dalam meyakini engkau dapat melakukan kebenaran-kebenaran aku dirimu.

Jangan berpikir sempit namun luaskan pikiranmu terhadap segala bentuk (kebanaran).

Sebab seperti yang diajarkan sang Adi Buddha sendiri:
“Karunia kebenaran melewati segala karunia yang lain, dan jika engkau melihat kebenaran dalam ajaran agama lain terimalah itu.”

Karena menjadi pengikut Buddha sesungguhnya menjadi pembelajar sejati yang selalu merindukan kebenaran aku dirimu di manapun kebenaran itu berada.

Bahkan ketika si setan Alavaka yang mengatakan pada sang Buddha engkau harus ke sini dan engkau harus ke situ, sang Buddha menuruti saja permintaannya, sebab dalam tahap itu ia melihat kebenaran dalam perintah sang Alavaka.

Apalagi jika kebenaran itu berasal dari mereka yang sama-sama mencari jawab atas kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Sehingga dengan melakukan tiga hal ini dalam berdharma, aku sungguh berharap bahwa engkau akan menuju tingkat kebahagiaan hidup yang lebih tinggi dan kemanusiaan yang lebih mulia.

***

17
Perhatikanlah kisah ini.
Dengan hanya berniat membebaskan ibunya dari niat jahatnya.
Angulimala telah menaburkan sebiji wijen karma baik bagi dirinya.
Padahal sesungguhnya Angulimala adalah orang yang tidak kenal belas kasihan.
999 nyawa manusia telah direnggutnya dengan sangat kejam.

Namun kebaikan sebesar biji wijen itu telah mempertemukan dirinya dengan aku dirinya.
Dan Angulimala menyadari kesalahannya dan terpesona pada sang Buddha.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh sang Buddha: “Seseorang yang melihat ajaranku melihat aku.”

Angulimala melihat Sang Buddha setelah bertemu aku dirinya dari aku sang Buddha.
Barulah ia tahu jalan pencerahan menuju sang Buddha

Ia bukan lagi penjahat sehingga ibunya menjadi sangat berbahagia
Angulimala tidak lagi menjadi pembunuh
Dan ia (bertemu dengan aku dirinya dan) menuju sang Buddha

***

18
Apa kebajikan yang paling utama sang Buddha? Bukankah ada delapan kebajikan.

Pertama berpengertian benar
Namun bagaimana engkau akan berpengertian benar jika tiada tahu apa yang aku dirimu berpengertian adalah benar?
Kedua berpikiran benar
Namun bagaimana engkau akan berpikiran benar jika tiada tahu apa yang aku dirimu berpikiran adalah benar?
Ketiga berbicara benar
Namun bagaimana engkau akan berbicara benar jika tiada tahu apa yang aku dirimu berbicara adalah benar?
Keempat bertindakan benar
Namun bagaimana engkau akan bertindakan benar jika tiada tahu apa yang aku dirimu bertindak adalah benar?
Kelima bernafkah benar
Namun bagaimana engkau akan bernafkah benar jika tiada tahu apa yang aku dirimu bernafkah adalah benar?
Keenam berusaha benar
Namun bagaimana engkau akan berusaha benar jika tiada tahu apa yang aku dirimu berusaha adalah benar?
Ketujuh berperenungan benar
Namun bagaimana engkau akan berperenungan benar jika tiada tahu apa yang aku dirimu berperenungan adalah benar
Dan kedelapan berkonsentrasi benar
Namun bagaimana engkau akan berkonsentrasi benar jika tiada tahu apa yang aku dirimu berkonsentrasi adalah benar?

Pertanyaannya bagaimana engkau tahu bahwa dalam setiap kebajikan engkau tahu dengan jelas bahwa aku dirimu adalah benar?
Engkau hanya mengikuti kebajikan namun tiada pernah tahu apakah kebajikan itu berasal dari (dalam) aku dirimu?
Atau apakah kebajikan aku mereka itu sesuai dengan kebajikan aku dirimu?
Sebab jika demikian, sesungguhnya engkau tiadalah melakukan kebajikan yang sebenarnya.
(Selain melakukan perintah saja.)

Engkau hanya mengikuti mereka yang sesungguhnya bukan aku dirimu.
Lalu apa guna kebajikan yang bukan aku dirimu? Sebab jika demikian aku akan berkata lebih baik engkau melakukan kejahatan saja jika itu adalah aku dirimu.
Dan melakukan jalan ini dan itu yang bukan aku dirimu hanyalah akan menjadi penghalang bagimu untuk menemukan aku dirimu.

Bukankah Gotama sendiri lebih memilih menjadi pertapa degil dari pada menuruti apa yang seharusnya dilakukan (oleh) seorang pertapa? Sebab (justru disitulah) Gotama pada titik kesadaran tertentu telah menemukan aku dirinya.
Apapun yang orang katakan tentang dirinya, pandangannya kemudian hanya terpusat pada apa yang diyakini (oleh) aku dirinya.
Dan Gotama menemukan (berjumpa dengan) pencerahan itu.

***
19
Sesungguhnya kita diperhadapkan pada sebuah dunia relatif.
Benar menurut siapa adalah benar?
Meskipun dikatakan Tataghata menunjukkan Kebenaran
Tapi Kebenaran siapa yang adalah benar?
Apakah kebenaran Tataghata atau kebenaran dirimu yang ada pada Tataghata?
Sebab Kebenaran itu sangat luas dan tidak semua kebenaran Tataghata diperuntukkan bagi aku dirimu.

Seperti Gotama yang tidak pernah berhenti bertanya dan terus bertanya dalam pencarian aku dirinya.
Sebab memang tiada kebenaran pada Alara Kalama atau Udakka yang sesuai harapannya.
Tidak juga pada keluarganya atau ayahhandanya yang adalah sang Raja Suddhonana yang selalu menawarkan pilihan untuk (hidup) dalam kemewahan.

Lalu di mana kebenaran yang dicari yang Buddha?
Ternyata Kebenaran mutlak itu justru ada di dalam dirinya sendiri.
Kebenaran yang memberikan petunjuk bagi dirinya untuk mencapai pencerahan menuju sang Buddha.

Jadi saudara dan saudariku
Aku ingin bertanya padamu: ”Siapa yang sebenarnya akan engkau turut sebagai penunjuk dalam kehidupanmu?“
Aku dirimu atau sang Tatagatha?
Atau aku dirimu yang ada pada Tataghata?

***
(Tanpa epilog)

(Amos Adi/Medan/Rentang Penulisan 2008-2009/Hasil interaksi dengan forum Online Buddha Wihara)