seni hidup

seni hidup (the art of living)

artikel

1 pikiran, keyakinan dan tindakan

Posted by amos on November 22, 2010 at 3:40 AM

Seni hidup (The Art of Living)


1 pikiran, keyakinan dan tindakan


Manusia menjalani hidup dalamperilaku yang bersumber dari keyakinan yang ada dalam pikirannya. Keyakinan dibentukoleh berbagai hal yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang diperolehnyasejak usia dini hingga saat keberadaannya hari ini. Pikiran-pikiran yangmengendap sebagai suatu hasil baik yang sekedar indoktrinasi semata maupunhasil dari sebuah perenungan dan refleksi pribadi kemudian menjadi sebuahkeyakinan yang menjadi landasan yang kokoh dari segala tindakan yang dilakukanoleh manusia. Keyakinan inilah yang kemudian berperan menjadikan perilaku manusiaitu seperti apa adanya dia sekarang.


Jadi tidak mungkin ada tindakanmanusia yang tidak bersumber dari keyakinan dalam dirinya. Tindakan manusiaadalah sebuah gerak yang bersumber dari keyakinan. Namun keyakinan yangbagaimana yang bisa menggerakkan manusia? Keyakinan pada dasarnya adalah sebuahsistem nilai yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan manusia.Mengapa seseorang melakukan suatu tindakan tertentu? Sebab berdasarkankeyakinannya tindakan itu akan memberikan pemenuhan atas kepuasan dalam kehidupannya.Jadi bisa dikatakan bahwa pada akhirnya apapun tindakan yang bersumber darikeyakinan yang ada di dalam diri seseorang adalah bahwa tindakan itu adalahsebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupannya. Dengan pemahaman inimaka kita menyadari bahwa titik akhir dari pada sebuah tindakan yang bersumberdari keyakinan adalah bagaimana hal tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.Dalam hal ini kepuasan tidak hanya berlaku secara jasmaniah namun juga perihal batiniah.


Lalu apa yang terjadi ketikasebuah perilaku dari sebuah keyakinan itu ternyata tidak lagi mampu untukmemenuhi kepuasan yang diharapkan? Mengapa tiba-tiba keyakinan dan tindakan itudiragukan oleh si aku? Aku adalah pribadi atau diri manusia yang menentukan seberapatingkat kepuasan yang diharapkan. Aku adalah sang penentu. Jika suatu tindakandan keyakinan tidak lagi memuaskannya maka aku akan mencoba mencari cara lainuntuk mencari kepuasan bagi dirinya. Lalu dari mana aku tahu bahwa ia tidaklagi puas dengan tindakan yang lahir dari keyakinan dirinya itu?


Aku adalah diri manusia yangselalu mencari kepuasan yang tanpa batas. Aku hidup dari pikiran yang sama yangtelah melahirkan keyakinan. Aku bisa dijelaskan sebagai rasa atau jiwa dalamdiri manusia. Aku bahkan lebih kuat dari pada pikiran. Pikiran membantu akuuntuk menemukan apa yang diinginkannya. Pikiran adalah alat bagi si akusehingga keyakinan yang lahir dari pikiran adalah keinginan si aku. Dan akupula yang kemudian menyatakan bahwa sebuah keyakinan tidak lagi dapat memuaskandirinya. Aku yang memberikan ruang bagi pikiran untuk memformulasikan sebuahkeyakinan yang menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi si aku.Jadi jikakemudian keyakinan adalah sebuah produk pikiran, maka pikiran terbebas darikeyakinan. Ia tidak bisa dibatasi oleh keyakinan sebab keyakinan memang hanyasebuah produk pikiran atas dasar pemenuhan kepuasan bagi si aku. Dalampengembaraan antara aku yang mencoba mencari kepuasan yang setinggi-tingginyabagi diri manusia, pikiran mencari jalan kemana ia dapat menemukan jalan itusembari keyakinan itu sendiri terus menimbulkan tindakan-tindakan ataumembentuk perilaku manusia.


Dan pada saat pikiran menemukan keyakinanbaru yang dicarinya sesuai dengan keinginan si aku, maka terjadilah sebuahproses pertentangan di dalam diri manusia antara keyakinan lama yang menjadi ukurankebenaran sebelumnya yang diyakini sebagai sumber pembentukan perilaku denganmodel keyakinan baru yang terbentuk dari pikiran sebagai usaha untuk mencarikepuasan yang lebih tinggi bagi si aku. Meskipun keyakinan adalah dogma didalam hidup manusia, namun pikiran dan si aku yang mencari kepuasan hiduptidaklah bergantung sepenuhnya pada dogma itu sendiri. Keyakinan yang dianggaptidak lagi memenuhi kebutuhan si Aku akan hakikat kepuasan bagi kehidupan manusiaakan segera digantikan oleh kerja pikiran dalam menemukan kebenaran baru yangkemudian menjadi keyakinan yang baru.


Lalu bagaimana keyakinan yanglama ini bisa dianggap tidak lagi relevan? Ada beberapa faktor pembentuknyayakni tingkat pertumbuhan masa periode manusia dari anak-anak menuju dewasa,kebutuhan dasar dalam setiap tahapan kehidupan manusia yang terus berubah,serta hal-hal atau pengetahuan yang dipelajari oleh manusia sepanjang hidupnya.Hal ini tidak terlalu sulit untuk dipahami misalnya keyakinan anak SD tentusaja berbeda dengan keyakinan seorang mahasiswa atau orang lanjut usia. Ataujika dari kecil seseorang mempelajari dan hidup dalam konsep agama tertentu makaakan berbeda dengan orang yang sejak masa kanak-kanak mempelajari agama yanglain, atau ideologi, dan lain sebagainya. Ada banyak sekali faktor-faktor diluar diri manusia yang membentukkan keyakinan, sebab pikiran seseorang memangberinteraksi dengan keseluruhan yang ada di sekelilingnya yang menghasilkankeyakinan-keyakinan dalam dirinya. Keyakinan itu kemudian sekali lagi membentukperilaku manusia.


Namun sekali lagi dikatakan, bahwapikiran manusia berbeda dengan keyakinan. Keyakinan memutuskan apa yang manusiamusti lakukan dalam tindakan dirinya, namun pikiran bersama sang aku memutuskanapa yang mesti diyakini. Jadi dengan pemahaman ini sebagai manusia kita mustisadar bahwa kita tidak diikat oleh sebuah keyakinan. Kita tidak diperbudak olehkeyakinan, namun kita menentukan apa yang bisa kita yakini. Kita sendiri adalahperwujudan antara aku dan pikiran yang bebas dari keyakinan. Aku dan pikiranbisa hidup dalam sebuah keyakinan selagi sebuah keyakinan itu dianggap benardan mampu untuk memberikan kepuasan hidup. Namun ketika  sebuah keyakinan tidak lagi mampu untukmemberikan kepuasan, maka aku dan pikiran akan bertindak dengan sendirinya.


Persinggungan antara keyakinanusang dan bentukan keyakinan baru dari aku dan pikiran adalah sebuah keputusan.Keputusan adalah sebuah komitmen bahwa kita berhenti untuk meyakini sebuah keyakinantertentuyang tidak lagi mampu memberikan kepuasan bagi kehidupan kita sebagaimanusia. Namun ada banyak manusia tidak mampu untuk membuat keputusan karenaadanya banyak tekanan-tekanan di luar dirinya. Keyakinan itu ternyata tidakhanya bersifat individualistik. Keyakinan adalah sebuah sistem yang tidak hanyamengikat satu individu melainkan menyatukan seluruh individu-individu yangmemiliki keyakinan yang sama tersebut dalam satu rasa.


Ketika satu individu berubahkeyakinan tiba-tiba ada sensitivitas kepada individu-individu yang lain yang merasadisakiti. Keyakinan kolektif memiliki pertahanan diri yang sangat kuat termasukbentuk-bentuk penghukuman atau sangsi bagi mereka yang merubah keyakinannyamenuju keyakinan yang lain. Inilah salah satu penghambat yang sangat besarapalagi dalam suatu masyarakat komunal yang tidak memberikan ruang bagiindividu-individu untuk memiliki apa yang ingin diyakininya sendiri.


Lalu tentu saja ini adalah sebuahpesan bagi kita. Di dalam masyarakat yang sangat mengedepankan konsepindividualis keyakinan pribadi mendapatkan tempat yang baik, sehingga banyakpemikiran-pemikiran baru yang berkembang. Mereka mampu memproduksi beranekaragam keyakinan sebagai bukti dari kebebasan untuk mengekspresikanpikiran-pikiran yang kemudian berkembang menjadi keyakinan-keyakinan yangberagam. Ada banyak pertentangan antar keyakinan namun individu-individu bebasmenentukan apa yang menjadi keyakinan bagi dirinya.


Jadi mau tidak mau, untukmendukung usaha pembebasan bagi sistem yang menghambat manusia untuk menentukanapa yang diyakininya, diperlukan sebuah proses liberalisasi, mengendurkanbudaya kontrol yang lahir dari keyakinan kolektif. Manusia tidak boleh tundukpada keyakinan, sebab manusia mampu berpikir. Ketundukan pada keyakinan adalahsebuah pemaksaan jika tidak lahir dari hati manusia yang terdalam. Keyakinantidak bisa mengikat manusia sebab itu hanya sebuah produk pikiran. Jika kitasadar bahwa kita adalah manusia yang mampu berpikir, maka kita harus berdiri diatas kebebasan berpikir. Sebagai manusia dewasa yang bukan lagi kanak-kanak,kita harus mampu untuk menilai apakah sebuah keyakinan itu sesuai dengankeinginan si aku? Apakah sebuah keyakinan itu mampu memberi kepuasan bagi siaku? Jika ternyata tidak, maka pikiran dengan sendirinya akan mencari jalanuntuk menemukan keyakinan yang lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan si aku.


Apa kebutuhan manusia? Kebutuhanpaling mendasar dalam kehidupan manusia adalah mendapatkan kepuasan bagidirinya. Kepuasan adalah hal yang paling utama, dasariah dan alami dalamkehidupan manusia. Jika sebuah keyakinan diragukan mampu memberikan kepuasanbagi individu manusia maka ia harus mampu untuk membuat keputusan meninggalkankeyakinan dan beralih pada keyakinan sebagai produk pikiran yang lebih mampumemberikan tingkat kepuasan yang lebih baik.


Namun ketika ada ternyata kemudiansebuah bentuk represif dari kelompok-kelompok yang memposisikan keyakinan lebihutama dari pikiran dalam bentuk represif, maka tidak bisa disalahkan jikakemudian manusia takut untuk mengambil keputusan mengenai apa yang terbaik bagi dirinya.


Isunya kemudian menjadi lainsebab disinilah kita yang merasa bahwa pikiran lebih penting dari padakeyakinan harus melakukan usaha untuk membebaskan individu-individu mampu untukmembuat keputusan dengan mengendurkan kontrol keyakinan kolektif. Caranyaadalah menyampaikan sebuah argumentasi perlawanan yang menyatakan bahwakeyakinan hanyalah produk pikiran dan manusia tidak bisa menjadi budakkeyakinan dan sebuah keyakinan seharusnya tunduk pada pikiran manusia danmanusia berhak atas kehidupan yang lebih baik berdasarkan pikirannya sendiri.


Ini sangatjelas jika kita kembali melihat argumen-argumen di atas bahwa memangsedemikianlah seharusnya manusia hidup dengan pikiran, keyakinan dantindakannya.


(Amos Adi/Bandung/22/11/2010/5/11AM)

 

 

 

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments