seni hidup

seni hidup (the art of living)

artikel

view:  full / summary

2 Hanya Keyakinan Diri yang Dianggap Benar?

Posted by amos on November 22, 2010 at 7:42 AM Comments comments (20)

Seni Hidup 2:  Hanya Keyakinan Diri yang Dianggap Benar?


Sudah ratusan atau bahkan ribuankali saya atau anda mungkin pernah terlibat dalam perselisihan atau perbedaan pandangandengan orang lain. Sebab memang hidup tidak selalu selaras antara pihak-pihakyang ada di dunia ini. Asal mula perdebatan itu sendiri adalah bahwa keduabelah pihak atau masing-masing pihak berniat untuk meyakinkan bahwa keyakinandirinya pada suatu konsep kebenaran adalah lebih benar dibandingkan denganpihak lain atau lawan bicara. Ini bisa jadi adalah hal yang wajar sebabkebenaran yang melekat pada masing-masing pihak itu dibentuk dari latarbelakang yang berbeda. Bukankah kita selalu begitu dan memang begitulah adanyamanusia secara dasariah merasa bahwa apa yang diyakininya sendiri adalah benar.


Hal ini kemudian menjadi sumberbagi perbedaan-perbedaan pemahaman yang saling berseberangan antara manusiayang satu dengan manusia yang lain. Secara analogi kita melihat bahwa di duniaini ada anonim bagi segala sesuatu misalnya kiri dan kanan, gelap dan terang,besar dan kecil, dan lain sebagainya. Bagian kiri tidak bisa menjadi bagiankanan, dan gelap tidak pernah akan bisa menjadi terang atau sebaliknya begitu. Iniadalah sebuah paradoks di mana kedua-keduanya ada sebagaimana mereka ada dalamkondisi yang bertentangan. Seperti magnet yang kedua kutubnya salingbertolakan. Jadi bisa saya asumsikan sedikit bahwa perbedaan yang tidak bisabertemu adalah hukum alam atau sebuah realitas yang sesungguhnya ada di duniaini.


Ada memang usaha-usaha manusia yangmau dan mencoba berpikir untuk menjembatani perbedaan-perbedaan tersebut, namunakhirnya jembatan itu sendiripun menjadi sebuah kebenaran atau bahkan keyakinantersendiri. Sangat sederhana untuk memahami pandangan ini seperti yangdisampaikan dalam teori dialektis filsafat Hegel. Di mana ada thesis akan adaantithesis yang menjadi sinthesis baru. Dan sinthesis itu menjadi thesis baruyang menimbulkan lagi antithesis dan demikian seterusnya sampai menuju padakesempurnaan. Artinya akan selalu ada lawan dari pemikiran-pemikiran yangberkembang yang menghasilkan pemikiran baru yang lebih terintegratif dari keduanya. Tentu saja teori ini adalah hal yang baik, namun tidak bisamenghilangkan pertentangan itu, malah merangkulnaya sebab hal itu memang sudahterjadi secara alamiah.


Pertentangan mungkin bisa hilangjika manusia tidak lagi berkeyakinan. Namun saya tidak bisa membayangkan jikamanusia tidak berkeyakinan, tidak memiliki identitas, tidak ada rasa dan semuaimplikasi hidup manusia yang tidak berkeyakinan. Namun itu tidak mungkin.Seperti menguras lautan dengan gayung jika kita ternyata memiliki niat hendakmenghilangkan keyakinan di benak manusia. Manusia tidak bisa melepaskankeyakinan sebab melalui keyakinanlah manusia menemukan identitas dirinya.Manusia bisa merubah keyakinan namun sesungguh tidak bisa menghilangkankeyakinan. Bahkan jika disebut yang tidak berkeyakinanpun mereka juga berkeyakinanyang sedemikian yakni berkeyakinan tanpa keyakinan. Itu wajar dan semua manusiadalam realitas yang sesungguhnya adalah begitu.


Dalam tulisan ini saya tidakmencoba untuk memberikan penilaian tentang baik dan buruk namun hanya mencobamenjelaskan realitas ini kepada anda. Realitas apa? Yakni bahwa manusia hanya mau percaya pada apa yang ingindipercayainya. Dengan kata lain setiapmanusia hanya yakin pada apa yang diyakininya. Sayapun demikian. Dan di luarapa yang mau dipercayainya itu itu tidak ada bagi dirinya. Dan ketidakadaaninilah yang kemudian menjadikan manusia hanya berpikir satu arah saja. Sehinggasecara natural manusia kemudian tidak pernah memikirkan kemungkinan-kemungkinanbahwa lawan bicaranya memiliki susunan, asumsi, latar belakang yang berbedadari dirinya yang juga adalah kebenaran dalam versinya sendiri.Atau jika pemahamanmanusia itu sudah lebih jauh, ia tahu ada keyakinan lain namun tidak adamanusia yang bisa meniadakan keyakinan dirinya demi keyakinan orang lain, dantetap pembelaan itu ada pada keyakinan dirinya sendiri.


Lalu bagaimana sebenarnya sistem keyakinanitu bekerja di dalam diri manusia? Ini sangat penting unuk mengetahui jawaban persoalandi atas. Mengapa kita  bersikukuh padapandangan diri sendiri? Alasannya sebagai berikut: Pertama) Bahwa hal itubersifat alamiah seperti yang telah dijelaskan di atas. Faktor alamiah tidakbisa ditentang. Bisa dikendalikan tidak bisa dihilangkan. Bisa diubah namunesensinya tetap ada. Seperti dengan apapun air bercampur, dan apapun kemudiannama dari air itu disebut, ia tetap adalah air. Ini adalah esensi. Manusiaberkeyakinan adalah sebuah esensi yang tidak bisa dirubah. kedua) Bahwa benar atausalah kehidupan seseorang hal itu dipengaruhi oleh latar belakang danpengalaman yang membentuk keyakinan manusia itu yang tentu saja berbeda antara manusiayang satu dengan yang lain. Sehingga kebenaran yang menjadi keyakinan itubersifat kontekstual sesuai dengan diri pribadi seseorang. Apa yang dalamanggapan saya benar bisa jadi tidak menurut anggapan orang lain namun inimemang sulit dipahami. Salah satunya kebenaran yang diperdebatkan sebagaikeyakinan seringkali bersifat menaklukkan.


Misalnya saya bertemu denganorang yang mengatakan Tuhan tidak ada dan yang satu lagi mengatakan Tuhan ada.Dua-duanya berpegang teguh pada argumentasi dirinya sendiri. Saya bisa menjelaskankedua-duanya baik dari sisi Tuhan ada maupun tidak ada dalam bahasa yangdimengerti oleh kedua-duanya. Namun ketika sudah sampai pada kesimpulan,kedua-duanya masih bersikukuh pada pandangannya masing-masing yakni yang satutetap pada pandangan Tuhan ada dan yang lain tidak ada. Prinsip dasarnya sederhana bahwa manusia hanya mau percaya pada apayang mau dipercayainya. Jadi ini bukan alasan pengetahuan akan kebenaran semata,namun melibatkan ego. Lebih jauh ini adalah sebuah identitas diri yaitu keyakinanyang dipahaminya. Dan lebih jauh lagi tidak ada manusia yang mau ditaklukkanoleh kebenaran yang lain. Akal sehatpun akan berhenti berfungsi ketika kitaberbicara tentang keyakinan akan kebenaran.


Saya berdebat dengan banyak orangIslam mengenai Trinitas yang mereka sangka sebagai ketuhanan yang tidak logis.Seorang sepertinya ahli dalam ilmu Fisika menjelaskan panjang lebar bagaimanahal itu dan kemudian menjelaskan bahwa itu tidak logis. Sejujurnya saya tidakpaham dengan istilah-istilah yang digunakannya. Namun ini bukan isu saya.  Isunya adalah saya mau mencoba menjelaskansedikit logika Trinitas kepada orang tersebut. Sebelum memulainya saya bilang:“Saya tidak mencoba menceritakan pada anda bahwa Trinitas benar menurutkeyakinan anda. Saya hanya mau bilang bahwa pandangan yang anda sampaikan bahwaTrinitas tidak logis itu tidak benar. Mari kita kita lihat logikanya.” Setelahsaya selesai menceritakan logika Trinitas dia tetap tidak percaya. Ya memangseharusnya begitu aneh jika seorang muslim mempercayai doktrin Trinitas. Tapibahwa Trinitas tidak logis ia berhenti mempersalahkan hal tersebut.


Dua kali saya menyampaikan halini, satu kepada rekan muslim dan satu lagi kepada seorang misionaris SaksiYehova sekte Kristen yang menolak doktrin Trinitas. Ini menarik sekali sebab logika sebenarnya bukan permasalahannya.Keyakinan adalah tetap sebuah keyakinan benar atau salah adalah sebuahkeyakinan. Ini membuktikan asumsi saya bahwa orang hanya mau meyakini apa iamau yakini atau percayai. Sebaliknya saya bisa membuktikan Trinitas bukanmonotheisme. Trinitas adalah Trinitas. Namun apakah orang Kristen juga akanmenyakininya demikian? Sama juga seperti orang Islam dengan keyakinannyademikian juga orang Kristen dengan keyakinannya.


Saya sering mendengar bahwa logikamendasari keyakinan. Dalam perkembangan sains dan dunia modern termasukpengaruhnya dalam bidang metafisika teologia, kemudian seolah-olah memang benardemikian. Kenyataannya memang keyakinan dunia modern lebih mendasarkan dirinyapada rasio, dan tidak hanya itu, lebih jauh suatu kebenaran yang mendasarikeyakinan harus memiliki bukti empiris dari suatu yang dianggap sebagaikebenaran. Namun saya kuatir bahwa keyakinan lebih dari sekedar logika sepertiyang dipersoalkan manusia modern.


Bisa jadi salah satu sumber pembentukkeyakinan adalah logika, namun keyakinan jauh dalam dari pada sekedar logika. Jika logika begitu cepat menerimasuatu kebenaran dan mau berubah ketika melihat bukti kebenaran yang lain,keyakinan tidak. Keyakinan lebih mendasar menjadi suatu identitas di mana didalamnya ada termasuk ikatan emosional yang sangat kuat antara keyakinan danpemilik keyakinan tersebut. Berkeyakinan artinya bisa jadi menutup mata padakebenaran lain di luar kebenaran yang menjadi keyakinan itu, dan menganggapbahwa apa yang diyakininya sendiri adalah benar. Atau jika keyakinan itutiba-tiba menjadi salah membutuhkan proses yang lama untuk mengganti keyakinanitu menuju sebuah keyakinan yang baru atau bahkan tidak pernah sama sekali. Jadimemang sangat sulit untuk menerima kebenaran yang bersumber dari realitasmeskipun itu adalah kebenaran yang sesungguhnya.


Kemudian cara yang paling mudahuntuk menolak adalah dengan mencari alasan atau menyalahkan sesuatu agar tetapmampu berpegang teguh pada keyakinan. Saya sangat tertarik dengan konsepeskatologi kedatangan Yesus yang ke dua kali dalam kehidupan orang Kristiani,yang mana kedatangan itu tidak kunjung tiba hingga saat ini yang sudahdiramalkan atau dinanti-nanti sejak abad permulaan. Namun apakah keyakinan ituhilang? Tidak ada banyak cara untuk menjadikannya sebagai kebenaran yangaktual. Misalnya dikatakan bahwa Yesus akan datang jika semua bangsa sudahmenjadi Murid Kristus, atau ini kesalahan umat Kristen yang tidaksungguh-sungguh hidup di dunia ini atau tidak peduli pada realitas dan tetapmeyakininya sebagai kebenaran.


Baru-baru ini ada isu yangmerebak yang bersumber dari ulama di Iran, bahwa sumber dari segala bencanaalam yang terjadi di dunia kita saat ini adalah kondisi wanita yang tidak maumenutup auratnya. Ketika saya bekerja di Aceh rumor yang berkembang yangmenjadi penyebab terjadinya Tsunami adalah sekumpulan anak-anak muda yangberpesta minuman keras di pantai bersama wanita-wanita. Selain alasan-alasanini yang dijadikan pembenaran bagi sebuah keyakinan, saya juga tertarik denganritual-ritual keagamaan ini dan itu. Banyak orang beranggapan bahwa ritualsangat penting. Jika ternyata banyak ritual gagal untuk mengubah perilakumanusia menjadi lebih baik, atau pada kenyataannya banyak ritual keagamaansifatnya hanya simbolis, atau suatu tindakan yang seharusnya ujungnya adalahpemahaman spiritualitas yang murni malah berujung pada politik, kekuasaan danharta benda, nampaknya akan lebih mudah bagi pengikutnya untuk menutup mata terhadaprealitas tersebut dan meyakini apa yang ingin diyakininya adalah benar.


Jadi benar bahwa realitas danpersepsi yang dihasilkan oleh pikiran meskipun secara logika benar dan dapatditerima oleh akal namun berhadapan dengan keyakinan hal itu membutuhkan suatuproses tersendiri dialogis tersendiri. Keyakinan tidak mudah berubah kokohbagaikan batu karang. Keyakinan adalah sebuah benteng yang sangat kuat bagiseseorang. Keyakinan pelindung bagi kebenaran namun pada saat yang sama iaadalah penjara bagi kebenaran yang lahir dari sebuah realitas yangsesungguhnya. Dan banyak orang lebih senang meyakini kebenaran yang dipercayainyasaja dari pada mendengarkan kebenaran yang sesungguhnya lahir dari realitasyang ada. Ini fakta.


Namun sekali lagi, saya tidak hendakmenyalahkan pelakunya sebab ini sudah menjadi sifat dasariah dari manusia. Jadipertanyaannya bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap hal tersebut? Apakahkemudian kita membiarkan saja cara ini atau kita menyampaikan ada cara yanglebih baik. Bisa jadi saat ini saya sedang membangun sebuah jembatan yangnyatanya juga akan menjadi sebuah keyakinan baru.


Sederhananya kita adalah individuyang terbatas terlebih pemikiran. Kita menjadikan sebuah kebenaran sebagaikeyakinan dalam keterbatasan kita untuk memutuskan apa yang seharusnya menjadikeyakinan. Namun kita memutuskannya juga. Ini wajar sebab pengetahuan kitatentang suatu hal itu tidak sempurna dan selalu saja kita berusaha untukmemperbaikinya menjadi lebih baik. Artinya ini adalah sebuah pesan yanggamblang bahwa tidak ada pemahaman mutlak yang bisa kita ketahui seluruhnyaapalagi jika kita berbicara tentang kebenaran yang sangat luas. Namun hal itutidak membatasi kita untuk berkeyakinan sebab memang demikian adanya. Keyakinanmemang tidak membutuhkan kesempurnaan pemahaman akan seluruh kebenaran. Cukupsaya menyukainya dan kemudian meyakininya. Tidak masalah bagi manusia untuktinggal dalam dalam keyakinan tertentu meskipun keyakinan itu bisa jadidibuktikan salah.


Jadi ketika kita berbicara denganorang lain perihal keyakinan kita yang berseberangan dengan keyakinan oranglain, paling tidak ada dua pilihan yakni pertama) kita bisa mempertahankankeyakinan bukan sebagai isu kebenaran itu sendiri, sebab keyakinan itu tidakhanya persoalan benar atau salah. Keyakinan itu adalah sebuah identitas,keterikatan emosional yang mendalam, sebuah hubungan yang sangat dekatmencerminkan siapa diri kita yang sebenarnya. Jadi seharusnya kita bisamengatakan: “Benar atau salah ini adalah keyakinan saya.” Ini salah satu caramempertahankan keyakinan dari serangan-serangan yang memang memiliki kebenaranyang kita mau kesampingkan. Lagi pula hidup bukan hanya masalah kebenaran saja.Ada banyak hal lain di luar kebenaran yang adalah kehidupan yang sesungguhnya ada.Dalam konteks ini bahkan sebuah kebenaran menjadi delusi dan keyakinan adalahsebuah bangunan yang pasti ada.


Pilihan kedua adalah beranimelakukan perubahan pada sistem keyakinan yang kita anut, apalagi jika seseorangmenyakini keyakinan itu adalah dasar kebenaran mengapa ia memutuskan untuk kemudianmempercayainya. Ini fundamental. Jadi jika kebenaran itu tidak lagi benar apalandasan baginya kemudian untuk berkeyakinan pada konsep kebenaran tersebut? Tentutidak ada lagi. Kita harus merubah keyakinan itu demi kebenaran, sehinggamenjadi keyakinan yang lebih memenuhi kaidah kebenaran di dalam diri kita.


Ini masih bisa menjadi sebuahperdebatan yang panjang!

 

(Amos Adi/Bandung/22/11/2010/7/48pm)

 

 

 

 

 

 

 

 


1 pikiran, keyakinan dan tindakan

Posted by amos on November 22, 2010 at 3:40 AM Comments comments (0)

Seni hidup (The Art of Living)


1 pikiran, keyakinan dan tindakan


Manusia menjalani hidup dalamperilaku yang bersumber dari keyakinan yang ada dalam pikirannya. Keyakinan dibentukoleh berbagai hal yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang diperolehnyasejak usia dini hingga saat keberadaannya hari ini. Pikiran-pikiran yangmengendap sebagai suatu hasil baik yang sekedar indoktrinasi semata maupunhasil dari sebuah perenungan dan refleksi pribadi kemudian menjadi sebuahkeyakinan yang menjadi landasan yang kokoh dari segala tindakan yang dilakukanoleh manusia. Keyakinan inilah yang kemudian berperan menjadikan perilaku manusiaitu seperti apa adanya dia sekarang.


Jadi tidak mungkin ada tindakanmanusia yang tidak bersumber dari keyakinan dalam dirinya. Tindakan manusiaadalah sebuah gerak yang bersumber dari keyakinan. Namun keyakinan yangbagaimana yang bisa menggerakkan manusia? Keyakinan pada dasarnya adalah sebuahsistem nilai yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan manusia.Mengapa seseorang melakukan suatu tindakan tertentu? Sebab berdasarkankeyakinannya tindakan itu akan memberikan pemenuhan atas kepuasan dalam kehidupannya.Jadi bisa dikatakan bahwa pada akhirnya apapun tindakan yang bersumber darikeyakinan yang ada di dalam diri seseorang adalah bahwa tindakan itu adalahsebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupannya. Dengan pemahaman inimaka kita menyadari bahwa titik akhir dari pada sebuah tindakan yang bersumberdari keyakinan adalah bagaimana hal tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.Dalam hal ini kepuasan tidak hanya berlaku secara jasmaniah namun juga perihal batiniah.


Lalu apa yang terjadi ketikasebuah perilaku dari sebuah keyakinan itu ternyata tidak lagi mampu untukmemenuhi kepuasan yang diharapkan? Mengapa tiba-tiba keyakinan dan tindakan itudiragukan oleh si aku? Aku adalah pribadi atau diri manusia yang menentukan seberapatingkat kepuasan yang diharapkan. Aku adalah sang penentu. Jika suatu tindakandan keyakinan tidak lagi memuaskannya maka aku akan mencoba mencari cara lainuntuk mencari kepuasan bagi dirinya. Lalu dari mana aku tahu bahwa ia tidaklagi puas dengan tindakan yang lahir dari keyakinan dirinya itu?


Aku adalah diri manusia yangselalu mencari kepuasan yang tanpa batas. Aku hidup dari pikiran yang sama yangtelah melahirkan keyakinan. Aku bisa dijelaskan sebagai rasa atau jiwa dalamdiri manusia. Aku bahkan lebih kuat dari pada pikiran. Pikiran membantu akuuntuk menemukan apa yang diinginkannya. Pikiran adalah alat bagi si akusehingga keyakinan yang lahir dari pikiran adalah keinginan si aku. Dan akupula yang kemudian menyatakan bahwa sebuah keyakinan tidak lagi dapat memuaskandirinya. Aku yang memberikan ruang bagi pikiran untuk memformulasikan sebuahkeyakinan yang menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi si aku.Jadi jikakemudian keyakinan adalah sebuah produk pikiran, maka pikiran terbebas darikeyakinan. Ia tidak bisa dibatasi oleh keyakinan sebab keyakinan memang hanyasebuah produk pikiran atas dasar pemenuhan kepuasan bagi si aku. Dalampengembaraan antara aku yang mencoba mencari kepuasan yang setinggi-tingginyabagi diri manusia, pikiran mencari jalan kemana ia dapat menemukan jalan itusembari keyakinan itu sendiri terus menimbulkan tindakan-tindakan ataumembentuk perilaku manusia.


Dan pada saat pikiran menemukan keyakinanbaru yang dicarinya sesuai dengan keinginan si aku, maka terjadilah sebuahproses pertentangan di dalam diri manusia antara keyakinan lama yang menjadi ukurankebenaran sebelumnya yang diyakini sebagai sumber pembentukan perilaku denganmodel keyakinan baru yang terbentuk dari pikiran sebagai usaha untuk mencarikepuasan yang lebih tinggi bagi si aku. Meskipun keyakinan adalah dogma didalam hidup manusia, namun pikiran dan si aku yang mencari kepuasan hiduptidaklah bergantung sepenuhnya pada dogma itu sendiri. Keyakinan yang dianggaptidak lagi memenuhi kebutuhan si Aku akan hakikat kepuasan bagi kehidupan manusiaakan segera digantikan oleh kerja pikiran dalam menemukan kebenaran baru yangkemudian menjadi keyakinan yang baru.


Lalu bagaimana keyakinan yanglama ini bisa dianggap tidak lagi relevan? Ada beberapa faktor pembentuknyayakni tingkat pertumbuhan masa periode manusia dari anak-anak menuju dewasa,kebutuhan dasar dalam setiap tahapan kehidupan manusia yang terus berubah,serta hal-hal atau pengetahuan yang dipelajari oleh manusia sepanjang hidupnya.Hal ini tidak terlalu sulit untuk dipahami misalnya keyakinan anak SD tentusaja berbeda dengan keyakinan seorang mahasiswa atau orang lanjut usia. Ataujika dari kecil seseorang mempelajari dan hidup dalam konsep agama tertentu makaakan berbeda dengan orang yang sejak masa kanak-kanak mempelajari agama yanglain, atau ideologi, dan lain sebagainya. Ada banyak sekali faktor-faktor diluar diri manusia yang membentukkan keyakinan, sebab pikiran seseorang memangberinteraksi dengan keseluruhan yang ada di sekelilingnya yang menghasilkankeyakinan-keyakinan dalam dirinya. Keyakinan itu kemudian sekali lagi membentukperilaku manusia.


Namun sekali lagi dikatakan, bahwapikiran manusia berbeda dengan keyakinan. Keyakinan memutuskan apa yang manusiamusti lakukan dalam tindakan dirinya, namun pikiran bersama sang aku memutuskanapa yang mesti diyakini. Jadi dengan pemahaman ini sebagai manusia kita mustisadar bahwa kita tidak diikat oleh sebuah keyakinan. Kita tidak diperbudak olehkeyakinan, namun kita menentukan apa yang bisa kita yakini. Kita sendiri adalahperwujudan antara aku dan pikiran yang bebas dari keyakinan. Aku dan pikiranbisa hidup dalam sebuah keyakinan selagi sebuah keyakinan itu dianggap benardan mampu untuk memberikan kepuasan hidup. Namun ketika  sebuah keyakinan tidak lagi mampu untukmemberikan kepuasan, maka aku dan pikiran akan bertindak dengan sendirinya.


Persinggungan antara keyakinanusang dan bentukan keyakinan baru dari aku dan pikiran adalah sebuah keputusan.Keputusan adalah sebuah komitmen bahwa kita berhenti untuk meyakini sebuah keyakinantertentuyang tidak lagi mampu memberikan kepuasan bagi kehidupan kita sebagaimanusia. Namun ada banyak manusia tidak mampu untuk membuat keputusan karenaadanya banyak tekanan-tekanan di luar dirinya. Keyakinan itu ternyata tidakhanya bersifat individualistik. Keyakinan adalah sebuah sistem yang tidak hanyamengikat satu individu melainkan menyatukan seluruh individu-individu yangmemiliki keyakinan yang sama tersebut dalam satu rasa.


Ketika satu individu berubahkeyakinan tiba-tiba ada sensitivitas kepada individu-individu yang lain yang merasadisakiti. Keyakinan kolektif memiliki pertahanan diri yang sangat kuat termasukbentuk-bentuk penghukuman atau sangsi bagi mereka yang merubah keyakinannyamenuju keyakinan yang lain. Inilah salah satu penghambat yang sangat besarapalagi dalam suatu masyarakat komunal yang tidak memberikan ruang bagiindividu-individu untuk memiliki apa yang ingin diyakininya sendiri.


Lalu tentu saja ini adalah sebuahpesan bagi kita. Di dalam masyarakat yang sangat mengedepankan konsepindividualis keyakinan pribadi mendapatkan tempat yang baik, sehingga banyakpemikiran-pemikiran baru yang berkembang. Mereka mampu memproduksi beranekaragam keyakinan sebagai bukti dari kebebasan untuk mengekspresikanpikiran-pikiran yang kemudian berkembang menjadi keyakinan-keyakinan yangberagam. Ada banyak pertentangan antar keyakinan namun individu-individu bebasmenentukan apa yang menjadi keyakinan bagi dirinya.


Jadi mau tidak mau, untukmendukung usaha pembebasan bagi sistem yang menghambat manusia untuk menentukanapa yang diyakininya, diperlukan sebuah proses liberalisasi, mengendurkanbudaya kontrol yang lahir dari keyakinan kolektif. Manusia tidak boleh tundukpada keyakinan, sebab manusia mampu berpikir. Ketundukan pada keyakinan adalahsebuah pemaksaan jika tidak lahir dari hati manusia yang terdalam. Keyakinantidak bisa mengikat manusia sebab itu hanya sebuah produk pikiran. Jika kitasadar bahwa kita adalah manusia yang mampu berpikir, maka kita harus berdiri diatas kebebasan berpikir. Sebagai manusia dewasa yang bukan lagi kanak-kanak,kita harus mampu untuk menilai apakah sebuah keyakinan itu sesuai dengankeinginan si aku? Apakah sebuah keyakinan itu mampu memberi kepuasan bagi siaku? Jika ternyata tidak, maka pikiran dengan sendirinya akan mencari jalanuntuk menemukan keyakinan yang lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan si aku.


Apa kebutuhan manusia? Kebutuhanpaling mendasar dalam kehidupan manusia adalah mendapatkan kepuasan bagidirinya. Kepuasan adalah hal yang paling utama, dasariah dan alami dalamkehidupan manusia. Jika sebuah keyakinan diragukan mampu memberikan kepuasanbagi individu manusia maka ia harus mampu untuk membuat keputusan meninggalkankeyakinan dan beralih pada keyakinan sebagai produk pikiran yang lebih mampumemberikan tingkat kepuasan yang lebih baik.


Namun ketika ada ternyata kemudiansebuah bentuk represif dari kelompok-kelompok yang memposisikan keyakinan lebihutama dari pikiran dalam bentuk represif, maka tidak bisa disalahkan jikakemudian manusia takut untuk mengambil keputusan mengenai apa yang terbaik bagi dirinya.


Isunya kemudian menjadi lainsebab disinilah kita yang merasa bahwa pikiran lebih penting dari padakeyakinan harus melakukan usaha untuk membebaskan individu-individu mampu untukmembuat keputusan dengan mengendurkan kontrol keyakinan kolektif. Caranyaadalah menyampaikan sebuah argumentasi perlawanan yang menyatakan bahwakeyakinan hanyalah produk pikiran dan manusia tidak bisa menjadi budakkeyakinan dan sebuah keyakinan seharusnya tunduk pada pikiran manusia danmanusia berhak atas kehidupan yang lebih baik berdasarkan pikirannya sendiri.


Ini sangatjelas jika kita kembali melihat argumen-argumen di atas bahwa memangsedemikianlah seharusnya manusia hidup dengan pikiran, keyakinan dantindakannya.


(Amos Adi/Bandung/22/11/2010/5/11AM)

 

 

 


Rss_feed